Minggu, 13 Januari 2019

Bitter Truth : Me And My Parents

Ku mulai menulis tulisan ini pada malam menjelang pagi dan sejak tadi aku masih belum tertidur. Ini biasa bagiku, menghabiskan waktu malam untuk melakukan apapun yang aku inginkan dan melampiaskan keinginanku untuk berkarya dan berpikir.
Karena itu waktu itu setelah di cek ternyata ginjal dan liverku serta darahku sudah mulai bermasalah. Aku jarang tidur karena banyak pikiran dan aku menikmati waktu malam untuk refreshing agar aku merasa lebih baik walau kadang aku akan mual dan pergi ke wastafel.
Setelah bertahun-tahun larut dalam masalah yang sama, ini adalah keputusan akhirku.
Kemarin Mama sudah bilang padaku, “Kalau mau menyebarkan soal ini ke orang-orang, silahkan!”
Karena itu biarkan aku sedikit menceritakan kisah pahitku yang kira-kira seperti ini.
Sekitar 5 tahun yang lalu sepulang les di malam hari dan lelah sudah mengisi ruang-ruang kosong di kepalaku, papa menjemputku lalu mengajakku untuk membeli sepatu baru untukku karena sepatuku sudah koyak dan hancur.
Aku menolak karena ingin cepat kembali ke rumah dan beristirahat. Tetapi papa terus membujukku walau aku terus saja menolak. Kami biasanya membeli sepatu di daerah kota yang berjarak belasan kilometrer dari bimbelku karena tempat itu memiliki koleksi sepatu-sepatu yang bagus dan berkualitas. Tetapi malam itu karena ku sudah mengotot sekali untuk pulang, papa akhirnya berhenti didepan sebuah toko sepatu yang berjarak tak jauh dari rumahku. Papa memaksaku turun tapi aku menolak, aku memang tidak mau beli sepatu baru dulu lagipula sepatuku masi bisa kupakai dan aku nyaman-nyaman saja menggunakannya. Tidak harus terlalu terburu-buru untuk membeli yang baru. Tunggu saja agar di hari lain bisa ke daerah kota untuk membelinya. Papaku sempat mengambil sepatu dari dalam toko lalu menunjukkannya kepadaku tapi aku tak menyukainya sehingga aku bilang bahwa aku tak mau sepatu itu.
Akhirnya papa menyerah dan masuk kedalam mobil dan sedikit mengata-ngataiku dalam perjalanan pulang.
Seingatku sesampainya di rumah aku masuk kedalam kamar, menaruh barang-barangku lalu aku keluar, mengambil sepatuku lalu masuk kembali kedalam kamar dan mencoba untuk menjahitnya. Setidaknya nanti masih bisa dipakai untuk beberapa hari.
Papa membuka pintu kamarku, menemukanku Bersama sepatu usang itu yang sedang kucoba untuk perbaiki. Papa mengataiku kalau aku menggunakan sepatu ini ke sekolah maka akan menimbulkan fitnah, orang akan mengira papa tak mau membelikan sepatu baru untuk anaknya. Aku bilang kalau taka da yang begitu peduli soal sepatu yang kugunakan lagipula normal bagi anak sekolahan jika terkadang sepatunya berantakan, nanti juga akan dibelikan yang baru. Papa tetap ngotot kalau itu akan membuat orang mengira yang buruk-buruk tentang dirinya sementara aku terus mengatakan kalau itu takkan terjadi, menurutku itu tak masuk akal. Lagipula aku takkan mau keluar lagi untuk membeli sepatu baru tengah-tengah malam.
Karena aku terus saja menjawab perkataan papa, papa kesal lalu mengambil sepatuku yang usang itu lalu keluar dari rumah dan melemparnya ke sawah. Air mataku menetes karena tidak percaya papa akan melakukan hal seperti itu pada sepatuku. Aku akhirnya mengatakan “Biar sulthan cari.”
Saat hendak keluar untuk mencari sepatuku, Papa malah membentakku dan menyuruhku angkat kaki dari rumah. Wajah papa saat itu sangat mengerikan dan aku sungguh ketakutan tapi seperti biasanya setiap papa marah dan menunjukkan wajah mengerikannya itu aku mencoba untuk tetap berani walau sesungguhnya jantungku berdetak kencang.
Aku lalu mengatakan “Yasudah biarkan sulthan ambil barang-barang sulthan dulu.”
Dengan wajah monsternya papa mengatakan, “Ga ada yang punya sulthan di rumah ini! Semuanya punya papa!”
Saat itu aku sempat berpikir bahwa malam itu aku akan berakhir dengan tidur tanpa alas. Tetapi mama pun datang dan mencoba meredakan emosi papa yang tampak seperti orang kesurupan itu. Wajahnya sangat mengerikan, matanya melotot dengan tajam dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa sangat ketakutan. Urat-uratnya tampak keluar dari kulit dan aku benar-benar sudah menyiapkan diriku karena disaat-saat seperti ini papa akan mencubit atau memukulku dengan sangat keras. Bahkan dulu ketika SD kelas 4 atau 5 aku pernah dicubit sampai pipiku luka dan berdarah. Aku pun menjadi ejekan teman sekelasku karena aku tampak aneh dengan luka di pipiku itu.
Malam itu pun aku diperbolehkan untuk tidur di dalam rumah. Walau begitu aku tak bisa bohong bahwa aku benar-benar syok dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku. Takut, marah, sedih, malu, lelah, gelisah, semuanya bercampur aduk dan membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku tak tahu apa yang salah denganku. Aku sudah terusir, aku sampah, papa benci padaku, papa monster. Pikiran negatif itu tertanam dengan baik di dalam kepalaku sehingga membuat Sulthan si anak yang selalu aktif dan tertawa berubah menjadi anak yang pendiam dan tak pernah tersenyum.
Aku awalnya tak mengerti apa yang salah denganku. Mengapa aku tak kunjung bisa merasa tenang dan kembali bersenang-senang bersama keluargaku? Biasanya masalah di dalam keluarga akan terlupakan setelah beberapa hari. Tetapi mengapa aku masih terus merasa tidak tenang, sedih? Sekarang aku baru paham kalau itulah yang disebut dengan trauma. Memang kesannya lebay, orangtuaku selalu menganggap bahwa aku adalah seorang anak durhaka yang benci dan menyimpan dendam yang sangat dalam kepada papa. Mereka juga mengatakan bahwa aku adalah anak yang sombong karena tidak mau senyum kepada orangtua sendiri. Padahal aku sendiri tak mengerti apakah aku ini benci apa tidak, yang kutahu adalah setiap kali ku melihat orangtuaku, aku merasa tidak tenang, terancam, stress, dan lain-lain. Mereka membuatku down karena itu aku berusaha untuk mengasingkan diri dari mereka dan mencari hal lain untuk dilakukan.
Walau aku stress dan down, orangtuaku tidak pernah sama sekali peduli mengenai hal itu, yang mereka pedulikan hanyalah kesalahan-kesalahanku. Setiap kali aku berbicara dengan mereka mengenai masalah yang kualami aku akan selalu mendapat tuduhan. Mereka terus menyalah-nyalahkanku, merendahkanku, dan ini tentu saja membuatku semakin down. Melihat mereka saja sudah cukup untuk membuatku tidak tenang, apalagi mendengar ocehan mereka.
Tak hanya itu, mereka juga selalu membesar-besarkan kesalahan yang kubuat walau sekecil apapun masalah itu. Dan kebaikan yang kulakukan benar-benar tak bernilai di mata mereka. Mereka akan terus mencari kesalahan yang bisa diungkit lalu memarahiku, menceramahiku sampai berjam-jam di malam hari, atau menamparku. Mama juga pernah melempar barang-barang kearahku seperti orang gila karena pada waktu itu aku bilang pada mama kalau aku mungkin butuh diruqyah seperti sebelum-sebelumnya tetapi papa juga harus dibawa untuk diruqyah juga. Sudah berkali-kali aku diruqyah tetapi kesannya tak memberikan hasil apa-apa. Tak ada yang berubah. Orangtuaku lalu menuduh kalau aku tidak ikhlas diruqyah karena itu setannya tidak mau keluar. Padahal aku santai saja ketika diruqyah bahkan aku pernah mencoba meruqyah diri sendiri.
Akhirnya karena aku menyuruh agar papa juga diruqyah, mama malah bilang kalau aku adalah masalahanya, bukan papa. Aku tidak setuju, ketika papa marah padaku wajahnya seperti orang kesurupan dan papa juga menurutku pemarah karena itu aku ingin papa diruqyah juga. Permintaanku untuk diruqyah bareng itupun berakhir dengan mama marah-marah dan mengatakan kalau aku adalah anak durhaka yang benci pada orangtua, mama juga melemparkan barang-barang kearahku sambal menyuruhku untuk pergi dari rumah. Untung ada nenek yang datang dan menenangkan suasana sehingga malam itu aku masih bisa tidur dirumah.
Aku tidak merasa senang di rumah dan karena itu akhirnya aku mencoba untuk mencari kesenangan dengan caraku sendiri. Mungkin bagi kalian yang dekat denganku saat SMP tau betapa buruknya aku pada waktu itu. Sesuatu yang tak perlu kuceritakan.
Aku tau orangtuaku akan menyalahkanku sepenuhnya dalam hal ini, orangtuaku takkan pernah merasa bersalah sama sekali. Mereka sering bilang padaku,
“Kurang apalagi kami?” Dan berlagak seperti mereka adalah orangtua terbaik di dunia. Mereka sering membandingkan diri mereka dengan orangtua-orangtua kejam lainnya diluar sana tapi tak pernah membandingkan diri mereka dengan orangtua-orangtua yang baik pada anak mereka.
Mereka juga sering membanding-bandingkanku dengan masa kecil mereka tapi menurutku itu tidaklah perbandingan yang senilai. Tentunya itu berbeda.
“Do not force your children to behave like you, for surely they have been created for a time which is different to your time.” -Imam Ali (as)
Tentu saja berbeda, aku bukanlah orangtuaku dan orangtuaku bukanlah aku. Lagipula aku tidak pernah membandingkan diriku dengan papaku yang ketika masa remajanya bermain band dan pergi ke klub malam atau mamaku yang bahkan berpakaian minim saat keluar rumah. Apakah masa mudaku yang dipenuhi event-event nasional, kreativitas dan produktivitas ini terdengar negatif di telinga mereka? Entahlah. Mereka terus memaksaku untuk sama dengan mereka dan itu membunuhku.
Mereka menuduhku benci, sombong, ada setan dalam diriku. Tetapi setiap kali di ruqyah tidak ada yang berubah dariku. Well, kurasa masalahnya ada di otakku, trauma. Penelitian juga mengatakan kalau setiap kali seorang anak dimarahi atau dibentak oleh orangtuanya maka aka nada sarafnya yang putus, mungkin ini adalah salah satu alasanku kenapa aku sering lupa terhadap sesuatu dan tak mengerti pelajaran di sekolah.
Aku stress dan pernah merasa kalau rumah adalah rumah bagiku. Ini mebuatku menjadi orang yang keras karena aku bukanlah tipe orang yang akan menangis ketika diserang, aku akan melawan dan memberi perlindungan kepada diriku sendiri saat merasa terancam. Karena itu setiap kali orangtuaku berbicara padaku, aku sudah siapkan kata-kata, amunisi untuk menangkis serangan mereka yaitu kerap menyalah-nyalahkanku dan membuat moodku hancur. Aku juga tak segan untuk berkata kasar kepada orangtuaku karena aku memang sudah tidak tahan lagi untuk hancur, aku haru melawan. Aku tak mau menangis, aku harus kuat, stress ini membunuhku dan aku takkan membuat diriku larut dalam kesedihan yang hanya akan memperburuk keadaanku sendiri.
Sifat melawanku ini tentu membuat orangtuaku marah dan mengatakan kalau aku adalah anak durhaka yang kurang ajar, tak jarang aku menerima pukulan yang rasanya memekakkan pendengaranku.
Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Aku hanya tidak ingin sedih dan keinginan itu membuatku tak bisa mengontrol diriku, aku akan melakukan apapun demi melawan karena aku takut dan merasa terancam. Ketika aku masih kecil aku sempat memiliki bipolar disorder dan kurasa itulah yang membuatku jadi tidak bisa dikontrol seperti ini. Aku bahkan pernah bilang bahwa papa adalah b*jingan betapa aku tidak tahan lagi dengan tekanan di dalam diriku. Tak hanya itu, aku pernah mengambil pisau dan berencana untuk membunuh papa dengan pisau itu.
Stress, sedih, itulah yang kurasakan. Aku tidak tahu apa yang bisa mengobatiku. Aku sudah mencoba untuk sering bersama teman-teman, mengikuti kegiatan-kegiatan positif tapi setiap kali aku pulang dan melihat wajah orangtuaku aku akan kembali merasakan hal yang sama.
Orangtuaku sangat anti untuk membawaku ke psikolog atau seseorang yang mengerti psikologi karena dianggap menyimpang dari islam, menggunakan logika bukan agama, paham kebarat-baratan, paham orang Yahudi. Tetapi nyatanya psikologi juga dipelajari dalam Islam, aku bahkan sudah mendengar ceramah Ust. Khalid Basalamah dimana beliau mengatakan kalau psikologi itu boleh-boleh saja dan bukanlah sebuah masalah. Temanku juga kaget ketika aku menceritakan tentang hal ini karena ia juga sering membaca buku psikologi islam di perpustkaan. Miris sekali orangtua seringkali memaksa anaknya bahkan membentak-bentaknya tanpa mengetahui kalau sebenernya mereka secara psikologis sedang membunuh anak mereka perlahan-lahan.
Sebenarnya aku sudah sempat ke psikolog sekali dan psikolognya menyuruh papa untuk datang juga menemuinya karena tidak mungkin masalah bisa diselesaikan dari satu belah pihak saja. Ketika aku bilang pada papa bahwa ia harus ikut ke psikolog ia malah marah dan bilang,
“Gak ada psikolog dalam islam!”
Aku pernah bilang pada mereka bahwa mengajari Islam tidak boleh dengan cara yang kasar atau melukai hati seseorang. Selama ini mereka mengajariku Islam dengan cara yang menurutku tidak tepat. Terus saja mengatakan kalau aku ini orang kafir (mereka mengatakannya secara tersirat agar mereka tidak dituduh mengkafirkan), mereka juga bilang kalau Allah akan menghukumku, mereka bilang kalau api neraka panas dan orang-orang sepertiku akan masuk kedalamnya. Tetapi mengapa mereka tak pernah mengajariku bahwa Allah itu Ar-Rahmaan, Ar-Raheem, Allah itu Maha Baik? Mereka mengajarkan ketakutan dalam diriku sehingga aku pun tidak bisa menemukan arti dari Islam Itu Indah seperti yang orang-orang katakan. Padahal jikalau aku sudah ditanamkan cinta kepada Islam sejak aku masih kecil tentu aku akan melakukan perintah Allah dengan senang hati tanpa merasa terpaksa sama sekali. Orangtuaku membuatku merasa tidak nyaman berada di Islam, Islam penuh dengan ketakutan dan ancaman, padahal setelah sekarang aku belajar ilmu agama lebih dalam lagi aku baru sadar ternyata Islam tidaklah menyeramkan dan karena itu sekarang aku menemukan keindahan Islam serta ketenangan di dalamnya. Jika aku terus saja di salahkan dan dituduh, bagaimana mungkin aku merasa nyaman dan termasuk bagian dari Islam? Tentu aku merasa diasingkan.
Singkat cerita cara orangtuaku mendidik telah membuatku jadi anti terhadap Islam sejak aku masih kecil dan membuat solatku dan ibadah-ibadahku itu hanya sebatas agar menunaikan kewajiban saja bukan karena aku ingin melakukannya.
Tidak betah dirumah, aku sebenarnya sempat kabur dari rumah dua kali. Pertama kali aku kabur dari rumah benar-benar terasa aneh bagiku. Aku memutuskan untuk untuk tidur di masjid dan pada tengah malam tiba-tiba aku bertemu seorang pemuda yang menggunakan jubah, rambutnya gondrong, tubuhnya kurus dan matanya tampak aneh dan mengerikan. Awalnya aku ketakutan melihatnya tetapi setelah dia bicara padaku ternyata dia adalah orang yang cukup ramah. Ia bilang ia berasal dari sebuah pondok pasantren dan malam itu sedang ingin tidur di masjid. Aku berkenalan dengan dirinya tetapi aku lupa namanya, namanya terdengar seperti nama-nama orang soleh dari masa lalu. Kami sempat berbincang panjang dan ia juga sempat bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Kami menjadi dekat malam itu tetapi ketika waktu subuh telah tiba aku berpamitan dengan dirinya dan memutuskan untuk solat di masjid lain.
Aku memutuskan solat di masjid yang lumayan jauh dan beruntungnya aku karena masjid itu membagi-bagikan nasi untuk semua jamaah sehingga aku pun bisa menikmati sarapan pagi itu.
Selanjutnya aku tidak ingat apa yang terjadi. Yang kuingat adalah aku sudah berada dirumah, aku duduk diatas sofa dan kulihat mama di depanku menanyakan soal diriku. Aku diam, aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku, kepalaku terasa berat dan aku tidak sanggup berpikir.
Aku lalu keluar dari rumah dan kembali meninggalkan rumah tanpa berbicara. Saat sedang dalam perjalanan aku tiba-tiba berpapasan dengan mobil papa. Aku tidak inga tapa yang terjadi selanjutnya, pokoknya papa menjatuhkanku ke tanah lalu menyeretku pulang. Aku berteriak meminta tolong hingga ada seorang tetangga yang keluar dari rumahnya dan berteriak ke papa. Papa pun mendatanginya lalu mengatakan padanya kalau aku memang suka membuat masalah, aku adalah anak yang tak mau mendengarkan orangtua, dan lain-lain. Papa berbicara dengan santai sambil tersenyum ramah sementara aku tidak diberi kesempatan untuk bicara.
Setelah akhirnya membuat sang tetangga merasa kalau papa tidak salah dan papa hanyalah orang baik, kami pun pulang tapi aku tetap menolak hingga aku berakhir di rumah tetanggaku. Aku benar-benar tak ingat apa yang terjadi karena pikiranku kacau saat itu dan aku tak bisa mengontrol diriku. Aku ketakutan, gelisah, aku tak bisa menggambarkan betapa buruknya perasaanku waktu itu.
Setelah aku mulai sadar dan pikiranku mulai tenang aku pun pulang kerumah dan sesampainya dirumah mama bilang padaku,
“Sulthan tadi pura-pura kaya orang gila kan? Sekali lagi Sulthan kabur dari rumah, Sulthan ga usah pulang lagi.”
Gila? Aku bahkan tak ingat apa yang baru saja terjadi. Kata-kata mama menempel erat dalam kepalaku sampai sekarang. Aku sadar kalau keluargaku memang menginginkanku untuk pergi karena aku hanyalah sumber masalah dirumah.
Stress, trauma, bukannya semakin membaik aku malah merasa semakin hancur. Aku sudah beberapa kali ingin bunuh diri bahkan sampai saat ini aku masih sering berpikir seperti itu. Kurasa mereka hanya akan peduli padaku setelah aku pergi. Karena itu aku sering sekali berpikir untuk mati terutama ketika aku sedang berkendara di jalan raya.
Kali kedua aku kabur dari rumah aku membawa beberapa set seragam sekolah karena saat itu ujian sedang dilaksanakan. Selama aku kabur orangtuaku sering menghubungiku merayu agar aku pulang dan berjanji akan berubah dan menjadi lebih baik lagi. Tetapi aku sudah hafal betul karakter mereka karena itu aku menolak. Lagipula aku kabur dari rumah juga karena semalam sebelum aku kabur papa sempat mengusirku.
Selama tidak berada dirumah aku merasa cukup bebas dan tidak stress karena aku bisa bersepeda kemanapun yang akum au, sejauh apapun yang akum au bahkan hingga tengah malam. Ternyata kota Banda Aceh tampak begitu indah pada jam 12 malam. Jalanan yang lebar itu kosong dan memantulkan cahaya dari lampu-lampu jalanan berwarna oranye. Udara malam juga sangat dingin dan segar walau sebenarnya tidak sehat tetapi aku terus mengayuh sepedaku berkeliling kota semauku.
Keesokan harinya mama mengabarkan padaku bahwa papaku terkena sakit jantung, stress karena aku pergi dari rumah. Tetapi aku tidak peduli, aku masih ingin menikmati kebebasanku ini hingga tiba saatnya aku kehabisan seragam sekolah. Tak ada cara lain, aku terpaksa pulang.
Pada jam 10 malam waktu itu aku pulang dan mengetuk pintu, tidak terlalu ingat apa yang terjadi tetapi mama tidak tampak sedih ataupun rindu sama sekali setelah aku pergi sekian lama. Aku masuk kedalam kamar lalu ditanya-tanyai oleh mamaku sambil diceramahi seperti biasa. Tetapi aku tak peduli, aku hanya ingin pulang, mengambil seragamku lalu besok aku akan kembali keluar. Saat mama sedang bicara denganku papa pun masuk kedalam kamar dan wajahnya tampak menjijikkan sekali, ia tampak sedih dan menyesal (wajah yang sama ketika ia selama ini pura-pura tersiksa ketika aku menangkis hantamannya, ia akan pura-pura jatuh sambil berteriak kesakitan padahal tangkisanku tidaklah kuat sama sekali). Lalu ia datang kepadaku dan memelukku, aku sungguh geli dengan apa yang dilakukannya itu. Aku tidak tahan, aku menolak dan menyingkirkan papa. Papa dengan wajah palsunya itu meminta maaf padaku dan berlagak seperti ia sungguh menyesal dan akan berubah. Aku sudah hafal betul karakter papa karena itu aku tidak mau merespon apa-apa. Aku tau suatu saat nanti papa akan kembali menamparku.
Aku merasa lumayan terobati dengan kaburnya diriku dari rumah. Aku merasa lebih tenang walaupun setiap aku melihat papa mood ku akan kembali hancur tanpa sebab. Sejak kejadian itu papa memang sudah tidak secerewet dulu, aku tak lagi dipaksa untuk solat di masjid, aku dibiarkan melakukan apa yang aku inginkan, aku tidak lagi dibangunkan untuk solat subuh, aku juga tidak lagi diajarkan ilmu agama.
Sejak saat itulah aku mulai mencari arti hidup dengan sendirinya, tak ada yang perlu memberitahuku apa yang harus kulakukan, aku akan melakukan apa yang aku mau. Dan luar biasa sekali karena disaat inilah aku akhirnya berhasil menemukan keindahan Islam yang selama ini tersembunyi dariku. Karena itu aku memutuskan untuk hijrah, kebiasaan-kebiasaan lamaku yang buruk sudah mulai kutinggalkan, aku mulai mengikuti pengajian dan juga mulai membaca lebih banyak lagi mengenai islam.
Disinilah aku baru menyadari bahwa yang dikatakan oleh orangtuaku selama ini adalah pembodohan, disini aku baru sadar ternyata orangtua juga bisa salah kepada anaknya. Selama ini orangtuaku mengatakan bahwa orangtua bisa mendidik anaknya semau mereka karena anak itu sendiri adalah milik mereka. Tetapi mereka lupa kalau anak itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar dan mendidiknya juga harus dengan cara yang benar, yang sesuai dengan dirinya, dan lebih mementingkan perasaannya.
Aku pernah bilang pada papaku,
“Banyak orang-orang malah pergi dari Islam karena dakwahnya salah kaya gini. Dakwah juga harus ada aturannya.”
Lalu papaku menjawab,
“Jadi sulthan mau mengikuti pemikiran orang-orang barat gitu? Itu pemikiran orang barat emang kaya gitu.”
Dan ternyata setelah kutelusuri, kata-kataku itu ternyata sudah tertulis di dalam quran.
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
Jadi ternyata itu bukanlah pemikiran orang barat, tetapi ayat Allah. Sayangnya kalau aku atau orang yang lebih rendah darinya berbicara, papa takkan mau mendengar bahkan kerap merendahkan dan berkata kalau dirinya lebih tau. Ia lupa kalau salah satu adab berdakwah adalah untuk tidak merasa paling tahu dan paling benar.
Sekarang aku sudah banyak melakukan perubahan dalam hidupku. Salah satu perubahan terbesar adalah jika dulu aku melampiaskan stressku dengan melakukan hal-hal yang tak dibenarkan, kini aku melampiaskannya kedalam karya-karyaku, musik. Aku membuat lagu kerap sekali memiliki lirik-lirik yang hanya aku mengerti maksudnya. Ini semua tergantung mood dan cerita yang sedang kuhadapi. Karena itu ketika aku merasa tenang aku akan membuat lagu-lagu yang memotivasi tetapi ketika aku sedang marah dan emosi aku akan membuat lagu yang terdengar lebih keras dan banyak mengkritik walau aku sendiri tak mendengarkan lagi lagu-lagu keras. Aku membiarkan kemarahan dan stressku mengalir kedalam alunan nada dan kata-kata yang aku sampaikan dan ternyata itu tak hanya dapat melampiaskan perasaanku, tetapi juga membimbing beberapa temanku ke arah yang jauh lebih baik. Beberapa temanku mulai berubah karena termotivasi dari karya-karya yang aku buat, banyak dukungan yang aku dapatkan dari mereka sehingga aku merasa lebih bersemangat dan lebih positif.
Sayangnya setelah perubahanku ini masih saja ada yang membuatku down. Siapa? Tentu saja orangtuaku.
“Youre not doing this for dawah. Youre doing this just to show people that you can. You think you can pull people to islam like this?” Begitulah yang papa bilang padaku.
Sebenarnya aku mulai tertarik ke Islam juga karena mendengar lagu-lagu rap islami, ini membuatku termotivasi untuk melakukan hal yang sama agar setidaknya aku bisa juga menarik orang-orang untuk lebih dekat dengan Islam, bukan untuk show off seperti yang papaku katakan.
Saat aku mencoba untuk meng upload video murottal di Instagram papa juga bukannya menyemangati tapi malah bilang,
“Papa udah dengar sulthan ngaji di Instagram. Banyak kali tajwidnya yang salah.”
Lah, yaiya dong aku juga baru belajar, wajar saja.
Mama juga menyuruhku berhenti melakukannya dengan dalih itu hanya akan membuatku riya dan takabbur. Jujur, aku selama ini belum mengupload video murottal karena takut akan riya. Tetapi setelah aku mencoba untuk lebih meluruskan niatku, sampailah aku pada titik dimana aku akan melakukan ini untuk Allah dan bukan orang lain. Karena itu aku matikan comment sectionnya dan aku tak terlalu memperhatikan progress yang dilakukan oleh postingan itu.
Setelah aku hijrah aku juga masih terkadang membuat kesalahan tetapi hijrahku malah menjadi sebuah amunisi bagi orangtuaku untuk mengatakan kalau aku ini tidak benar hijrahnya dan aku ini hanya anak yang memelihara kebodohanku.
Orangtuaku selalu mengkritik, tidak mendukung, selalu komplain, tidak memberikan solusi, ini membuatku down dan sempat beberapa kali memutuskan untuk berhenti hijrah dan kembali ke diriku yang dulu. Untungnya teman-temanku, guru, ustad, mereka selalu ada untuk menyemangatiku. Bahkan Bang Muzammil sendiri bilang padaku,
“Memang awalnya kita akan dibilang riya dan lain-lain. Tak usah pedulikan dan terus lakukan.”
Karena itulah dakwah akan terus kulakukan walau aku hanya seorang pendosa yang jauh dari kata sempurna.
Walau aku tampak seperti orang yang ceria dan seru jika dilihat dari konten-konten yang aku buat, nyatanya traumaku masih menghantuiku dan aku masih merasa down setiap melihat orangtuaku.
Kemarin aku dibawa liburan ke Kuala Lumpur tapi bahkan sebelum berangkat saja mama sudah mengomentariku dan menyalah-nyalahkanku. Selama di Kuala Lumpur aku juga sering bersama orangtuaku sehingga aku benar-benar tidak menikmati perjalanannya. Aku harap suatu hari aku bisa kembali lagi ke Kuala Lumpur bersama teman-temanku yang selalu ada disana ketika aku merasa down.
Memang orangtuaku memberiku harta dan kebutuhanku, tetapi mereka juga berhasil membuatku trauma dengan keluargaku sehingga aku tak akan pernah tenang ketika aku bersama mereka.
Sampai sekarang aku masih kebingungan dan terus mencari solusi. Sudah berkali-kali bicara dengan orangtua tentang apa yang aku rasakan, ujung-ujungnya akan berakhir aku yang disalahkan. Karena itu aku sudah tidak berani lagi bicara.
Seperti tadi malam mama masuk ke kamarku dan mengajakku untuk bicara tetapi aku terus saja menolak.
“Kamu sampai kapan mau jadi anak durhaka kaya gini?”
Aku hanya diam, aku hanya ingin sendiri dan tak diganggu. Mama takkan sama sekali menyelesaikan masalahku, tetapi hanya akan membuatnya semakin buruk.
“Sulthan mau apa?”
“Sulthan perlu orang lain yang bicara. Sulthan ga mau bicara.”
“Yauda kalo gitu mulai mala mini mama sama papa juga ga akan bicara lagi sama sulthan ya.”
Mama lalu pergi kembali ke kamarnya. Sudah kukira akan begini baik jika aku bicara ataupun tidak. Pasti pada akhirnya aku akan dapat masalah lagi.
Sekarang aku stress, dan traumaku terasa menusuk ubun-ubun, aku tidak berani melihat wajah orangtuaku lagi, aku sedih terhadap diriku sendiri dan marah pada keadaan. Tetapi aku tetap tak akan membiarkan diriku menangis atgaupun meneteskan air mata. Tidak akan. Aku tak akan lemah dan aku akan tetap bertahan walau keadaan sebenarnya sudah sangat berantakan.
Terkadangaku iri terhadap adik-adikku yang bisa dengan bebas melakukan apa yang mereka mau tanpa disalahkan sama sekali. Sekecil apapun kesalahan yang kuperbuat pasti akan dikritik dan dikomentari sementara ketika adikku mengidolakan perempuan-perempuan setengah telanjang yang berjoget diatas panggung orangtuaku membiarkannya saja. Adikku juga menyimpan beberapa foto perempuan seksi dan kurasa itu bukanlah sebuah masalah di mata orangtuaku. Adikku juga sempat me like dan mengkomen sebuah postingan berbau porno dengan "Kok aku ketawa ya liatnya". Tapi kurasa orangtuaku tidak terlalu peduli atau mungkin tidak tahu. Mereka selama ini mengaku paling tahu karena telah hidup lebih lama padahal aku lebih mengerti sistem yang sedang berlaku sekarang karena aku mengalaminya langsung. Aku menjauhi anime dan kpop karena kutau itu akan merusakku. Sementara orangtuaku yang tidak tahu tentang itu membolehkan adik-adikku bahkan mereka bangga karena adikku jadi bisa menggambar dan berbahasa Jepang. Di sisi lain adikku sudah jatuh kedalam pornografi, hentai yang memang sudah menjadi hal yang biasa dalam dunia anime dan konten-konten Jepang.
Aku sudah tidak bisa berpikir dengan baik lagi. Aku awalnya ingin mengikuti beasiswa ke Malaysia dan Turki tetapi aku sudah terlalu pusing untuk memikirkan itu sehingga kurasa akan ku batalkan rencana itu. Aku juga semakin tidak fokus dalam pelajaran, pelajaran sama sekali tidak masuk kedalam otakku apalagi pelajaran IPA, karena itu aku memilih untuk mengambil IPS dalam tes masuk kuliah nanti.
Tetapi jujur aku sudah tidak tahu lagi kemana arah hidupku. Traumaku ini semakin lama hanya membuatku semakin terbunuh. Aku stress dan depresi sehingga semuanya tampak berantakan. Andai aku bisa bersih dari semua dosa, aku ingin sekali hidupku berakhir. Aku sudah lelah dengan semuanya.
Aku butuh pengertian, aku butuh  seseorang yang bisa membantuku, seseorang yang tak berpotensi direndahkan oleh orangtuaku karena orangtuaku kerap meremehkan orang yang lebih  muda atau orang yang ilmu agamanya masih sedikit. Aku ingin punya masa depan yang cerah, aku ingin punya pekerjaan, aku ingin merantau. Tetapi selama masalah ini tidak terselesaikan kurasa mimpiku hanya akan selamanya menjadi sebuah mimpi.
Aku butuh trauma ini hilang karena selama trauma ini masih menghantuiku bahkan untuk melihat orangtuaku saja aku bisa down. Aku tidak lagi bisa berpikir jernih, pikiranku berantakan. Aku juga jadi sering sakit, pitam, pusing, dan lelah walaupun aku sudah cukup tidur.
Aku butuh orangtuaku datang padaku untuk bicara dengan lemah lembut tanpa mengancam, sok tau, sok benar, dan menyalahkan. Sudah cukup aku mendengarkan, aku ingin didengarkan. Tetapi kutahu itu tak akan pernah terjadi. Orangtuaku terlalu egois dan keras kepala untuk melakukan itu. Mereka tak akan pernah mengakui kesalahan mereka, mereka sendiri yang bilang “Kurang apalagi kami, coba?”.
Banyak yang kurang, tetapi untuk apa aku katakana jika ujung-ujungnya akan berakhir dengan aku lagi yang disalahkan?
Seperti beberapa hari yang lalu ketika aku menceritakan kalau aku sudah beberapa kali mimpi papa ingn menghancurkanku. Tetapi ujung-ujungnya aku dituduh benci dan dendam hingga terbawa mimpi. Aku kira trauma dan benci itu berbeda tetapi tidak ada yang namanya trauma dalam kamus orangtuaku.
Aku lelah dengan hidup.
Aku butuh seseorang untuk mulai mengubahnya.

Sabtu, 07 Januari 2017

The Legend Of Tyeontae (Part 6)


2 atau 3 bulan pun berlalu...

Sasa sekarang uda bikin akun instagram baru. En kali ini instagramnya ga lagi dijadiin sebagai media buat nambah popularitas ato nebar pesona. Kali ini instagram digunain Sasa sebagai wadah untuk bercerita dan berbagi motivasi dengan orang lain. Sasa juga ga nge-cheat lagi kali ini. Walaupun begitu, followersnya Sasa tetep nambah kok.

Kali ini Sasa mencoba untuk menjauhkan diri dari sifat alay nirojim laknatullah sehingga isi instagramnya ga lagi berisi foto-foto dia yang yang sok cantik. Selain itu dia juga telah mengubah display name Line-nya dari tyeontae menjadi namanya sendiri.

@Sasa             : Halo taaaaaan!!

@Sulthan        : Haiiii...

Btw, Sasa juga uda putus ama pacarnya ( :v ) en sekarang memutuskan untuk lebih berpikir ke depan buat masa depannya nanti.

Eits... Jangan salah paham dulu, gua disini tidak berniat buat ngelakuin propaganda so Sasa bakalan ninggalin pacarnya en gue bakalan jadi penggantinya, malahan gua ama Sasa sekarang lagi mencoba untuk lebih menjaga jarak soalnya uda banyak banget yang ngirain kami ini pacaran. Well, salah kami juga sih karena barengan mulu kemana-mana. Gua ama dia tuh uda kaya kakak-adik deh. En pastinya gua yang jadi kakaknya. So gua punya hak penuh untuk mengintimidasi kapanpun gua mau. But tetep aja gua ama Sasa bukan muhrim en hubungan kami berdua hanyalah sebatas sahabat doang so gimanapun jarak antara kami harus tetap dijaga.

Walau begitu kami akan tetap berusaha untuk mendaki bersama-sama. Sasa pernah bilang ke gua kalo gua dan dia harus bisa sukses bareng-bareng suatu saat nanti. So, pastinya harus saling berusaha en mendukung satu sama lain. Ketika salah satu dari kami terjatuh, maka kami akan berusaha untuk bangkit bersama lagi.
Sasa uda gua kenalin juga ke beberapa teman penulis gua diluar sana, termasuk Nadia (yang pernah baca postingan ‘Hari Minggu Ini 2’ pasti ingat ama nih orang).

Selain Nadia, ada Ailsa dari Bandung, Diko dari Bali, Ka Habib dari Bangka, De dari Riau, en ada temen-temen lain yang kaga mungkin gua sebutin semuanya disini. Ohya gua juga uda kenalin dia ama Arief en kemarin itu baru aja diskusi bareng tentang rencana kami kedepannya sambil ditemenin mocca float yang sumpah nyegerin banget.

Well, tujuan gua sih simple. Gua cuma pengen dia jadi lebih dekat dan berbaur ama temen-temen yang Insya Allah bisa ngebantu en ngedukung dia untuk terus maju. Kaya yang dibilang ama Oprah Winfrey, “Surround yourself only with people who are going to lift you higher”.

Ohya btw about Diko nih, nama Diko sendiri sebenernya itu adalah Made Bagus Andika Kaya. Diduga homo soloensis ini melarikan diri dan menetap di Bali sejak tahun 1883 untuk menjauhkan diri dari serangan Krakatau. Agamanya Hindu, tapi ikut gerakan Indonesia Menutup Aurat. Gua bertemu Diko di ARKI 2016 waktu itu en dianya ngaku-ngaku kelahiran 2003 yang kena kelas akselerasi. Sampai sekarang tanggal lahirnya masih dipertanyakan, bahkan oleh ibunya sendiri.

Btw kenapa dia ga dipanggil ‘Dika’?

Kata Diko, kalo ada cowok yang manggil dia ‘Dika’ itu kesannya homo. Makanya dia ga mau dipanggil dengan nama itu (sumpah, selama ini uda berapa banyak cowok yang gua panggil ‘Dika’? Seberapa homo-kah gua sebenarnya?).

Sasa sekarang uda berubah banget dari yang dulu. Dia sekarang cenderung berpikir ke depan dan bersama dengan gua berusaha menggapai mimpi-mimpinya. Dan yang paling gua kagumin dari Sasa yang sekarang adalah dirinya yang sudah berjilbab dengan baik dan dilandasi perhiasan yang wajib dimiliki oleh setiap perempuan, rasa malu.

Sekarang Sasa dan gua bukan lagi teman baik, kami lebih tampak seperti sebuah kelompok kecil yang berlandaskan mimpi, harapan, dan persahabatan.

Sasa dan gua percaya kalau dengan adanya kegigihan, kerja keras, dan kesetiaan, suatu saat nanti mimpi-mimpi kami akan jadi kenyataan.

Kisah gua dan Sasa berlanjut dengan Arief yang uda mulai bergabung bersama kami.

Sekedar info nih, sebenernya jauh sebelum ketemu Sasa, gua dan Arief udah terlebih dahulu memulai. Gua bertemu dengan Arief ketika masih MTsN dulu en jadi deket gara-gara sama-sama suka ngomong pake bahasa Inggris.

Gua inget banget kalo setiap habis makan siang gua ama Arief sering ngobrol-ngobrol pake bahasa Inggris tentang topik apa aja dibawah pohon depan kelas gua. Sampai pada akhirnya kami diajak untuk jadi bintang tamu di salah satu stasiun radio dalam acara yang bertemakan penggunaan bahasa Inggris di kalangan remaja saat ini.

Pas SMA gua ama Arief sempet terpisah gara-gara berbeda sekolah tapi ketemu lagi di cafe pas gua diminta ngisiin surat rekomendasi untuk program pertukaran pelajar yang dia ikutin. Nah disaat itulah gua ngasi tau Arief tentang ARKI en ngajak dia buat ikutan. Arief pun setuju.

Sejak itu gua en Arief jadi sering ngerjain naskah bareng di cafe maupun di pustaka kampus. Kami juga jadi suka berdiskusi tentang rencana-rencana kami kedepannya.

Beberapa bulan berlalu...

Gua dan Arief memandang keluar jendela pesawat sambil ngeliat awan-awan yang berada dibawah kami. Sekali-sekali gua menyeruput kopi yang gua letakin diatas meja di depan gue sambil ngedengerin musik dari headphone.

“Jakarta, ARKI, we’re on our way...”

Basically, pada awalnya gua ngenalin Sasa ke Arief karena iseng. Mereka juga masi aga awkward pas pertama kali kenalan but lama-lama jadi saling kenal en jadi makin akrab.

Dengan adanya Arief yang mulai bergabung ke dalam atmosfir kami, semuanya jadi tampak lebih sempurna, pemikiran-pemikiran yang berbeda bergabung dengan harmonis sehingga melahirkan harapan-harapan baru serta ide-ide dan tujuan yang baru.

Kami sadar kalo kualitas remaja-remaja sekarang dalam segi karakter itu uda kurang banget. Kami sadar kalo pengaruh kehidupan remaja sekarang ini uda banyak ngebikin mereka lupa akan mimpi-mimpi dan cita-cita mereka. Karena itu salah satu tujuan kami disini adalah untuk tampil berbeda dari mereka dan memperkenalkan semesta yang jauh lebih berwarna..

Sasa pernah bilang ke gua,

“Hal yang paling penting ketika kalian bekerja dalam sebuah tim adalah kepercayaan dan bekerja sama antara cinta dan harapan.”

Dan selama itu menjadi basis kami bertiga, kami yakin dan percaya kalau untuk kedepannya banyak hal akan bisa kami wujudkan.

“Jika kamu adalah seorang bintang, maka ketahuilah bahwa ketika bintang berkumpul menjadi satu, maka sebuah cerita akan datang ke kehidupan dengan nama baru. Dan nama itu akan terus melekat padanya dan membuatnya bersinar. Seperti konstelasi bintang yang bersinar seperti kalian dengan sebuah bintang kecil seperti debu berteman. Untuk saat ini, Sulthan, Arief, kalian adalah bagian dari cerita baruku...”

Kami bagaikan bintang-bintang kecil yang bersama-sama mengelilingi pusat galaksi, membara seperti semangat dalam diri kami, dan bersinar terang bagaikan mimpi-mimpi yang kami miliki.

Gua, Arief, dan Sasa yakin kalau tiada yang mustahil bagi mereka-mereka yang percaya dan berpegang teguh pada mimpi-mimpinya. Karena dengan kekuatan doa, usaha, dan kerja sama semua keajaiban bisa saja jadi kenyataan.

“Sas, suatu saat nanti kita akan bersama-sama berada diatas sana. Trust me...”

Dari cerita singkat ini gua cuma mau ngasi tau, don’t be afraid to change. You may lose something good, but you may gain something better :)

The Legend Of Tyeontae (Part 5)


Hari-hari berlalu. Gua kembali teringat ama percakapan gua en Sasa ketika di kantin waktu itu. Gua inget banget pas dia bilang ke gua kalo dia tuh punya mimpi dan dia pengen banget ngeraih mimpi itu. Kata-katanya Sasa waktu itu benar-benar mencerminkan seseorang yang memiliki potensi, tekad, dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang baik.

But tetep aja kembali lagi ke isi medsosnya itu yang ‘ahsudahlah’. Bukan cuma itu, gua juga uda ngestalk instagram dia en followersnya tuh ampe 13,4k!! Gilak!!! Lebih banyak daripada uang jajan gua dalam sehari!!!

“Sas, followers lo kok bisa banyak begitu?”

“Gua nge-cheat...”

*nampar Sasa pake setrika*

Bukannya gua nge-‘judge’ dia sebagai orang yang gabaik cuma gara-gara isi medsosnya itu pada engga nutupin aurat. But, kembali lagi deh ke Al-Qur’an,

‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,...’ (Q.S. An-Nuur ; 31).

Berjilbab dan menutup aurat itu bukanlah sebuah opsi, tapi sebuah kewajiban yang harus dipatuhi ketika seseorang udah akil baligh. Yang ketika ditinggalkan akan membekaskan tinta dosa di catatan amalnya. Dan gua tentunya gamau itu terjadi pada temen super baik gua, Sasa.

Hari-hari berlalu...

Gua ama Sasa lagi dalam perjalanan pulang dari sekolah. Yhaa tentunya sambil nunggangin anak masing-masing (btw munafik amat sih? Anak sendiri ditunggangin).

Gua sesekali ngeliat ke Sasa. Gua pengen banget ngasih tau dia soal isi medsosnya. But, gatau nih. Bingung, bimbang. Sebaiknya dikasi tau atau engga? Soalnya gua juga pernah nasihatin beberapa temen gua sebelumnya en mereka ujung-ujungnya malah ngejauh. Yha gua pastinya juga gamau kehilangan Sasa sebagai temen gua sendiri. But, akhirnya gua mencoba memberanikan diri. Lagian kayanya Sasa ini cukup open minded deh orangnya. Kira-kira gini deh percakapannya waktu itu,

“Eh, Sas... Lo terbuka terhadap kritikan ga?”

Sasa menatap mata gua seakan-akan pengen ngehipnotis lalu ngangguk-ngangguk.

“Kenapa, Tan?”

“Errr....” Gua menghirup napas dalam-dalam lewat mulut (en ngeluarin lewat belakang pastinya).

“Gini Sas, lo nyader ga sih kalo lo itu kaya bakpau??”

“Apah??” (Oke, gua tau itu adalah permulaan yang fatal).

“Umm... Duuhh... Gini, yang namanya bakpau itu kalo luarnya aja enak tapi dalemnya ga enak. Orang ga bakalan mau beli. En begitu juga kalo dalemnya doang yang enak tapi luarnya kaga, orang juga gabakal mau beli. Nah, lo itu persis kaya gitu.”

“Eng... Engga ngerti.”

“Sas, ketika lo bicara tentang diri  lo kemarin itu. Gua beneran kagum. Gua ga nyangka bisa dapet temen yang keren dan sepemikiran ama gua, lo. But, tetep aja. Ada yang masih kurang. Lo tuh luarnya masi engga baik. So kalo bakpau luarannya ga enak. Yha semuanya jadi ga enak, keseluruhan.”

“...........????...........”

“Gini deh, gua ngeliat ada potensi dalam diri lo. Gua tau lo sebenernya ga nakal. But, itu ketika gua ngenilai lo lebih dalam. Dari luar, lo masih nakal buat gua.”

Sasa terdiam ngedengerin gue. Gue buntu ngeliatin Sasa. Seriusan gatau mau improvisasi kaya gimana lagi.

Sumpah, KENAPA ANALOGINYA HARUS BAKPAU SEH??? GAADA OPSI LAIN APA????

Uda deh. Mumpung uda terlanjur. Ayo, Than! Lanjutkan! Just jump to the case!

“Err... Sas, gini deh kenapa isi sosial media lo itu banyak yang ga pake jilbab yah?”

“Umm... Ga ada sih..”

“What?? Maksudnya??”

“Yaa gaada alasan... Gitu aja.”

Allahu Akbar!!!

“Sas, lo nyader ga kalo sehelai aja rambut yang lo nampakin itu berarti ribuan tahun di neraka?”

“Umm... Gatau...”

“Gini deh, Sas. Plis, jaga aurat lo baik-baik. Gua mohon banget. Soalnya gua tau lo tuh sebenernya orang yang baik. But tetep aja ada yang harus lo perbaiki. Plis banget, Sas. Soalnya gua gamau lo gimana-gimana nantinya. Lo harus baik dari dalam dan juga dari luar.”

“Iya deh...”

“Oke? Deal yah?”

“Iyaa...”

“Eh, Sas. Gua pulang lewat sini yah. Lo tau jalan pulang kan???”

“Tauuu...”

“Oh oke... Byee!!”

*Lagu See You Again berkumandang*

Sesampainya di rumah gua beneran lega banget. Gua naruh tas gua di samping meja kompi en loncat ke kasur. Sumpah, tadinya gua takut reaksi Sasa bakalan brutal, but Alhamdulillah engga. Alhamdulillah hari ini gua berhasil ngasi tau dia soal ini. Gua berharap untuk kedepannya Sasa akan jadi lebih baik lagi.

Sejak hari itu, Sasa pun terus berubah menjadi lebih baik setiap harinya. Walaupun kadang-kadang goyah en kembali ngelakuin kesalahannya lagi.

“Sas, coba sebutin salah satu keinginan dari diri lo.”

“Ummm... Apa?? Gatau...”

“Coba sebutin. Satu aja.”

“Gatauuu...”

“Hmmm... Gini deh... Lo kayanya pengen jadi orang yang keren ya, Sas? Gua uda ngestalk instagram lo en kesannya sih gitu. Lo pengen jadi terkenal gitu?”

“Umm... Ehehe...”

“Sasa, gua bisa bantu lo kok. Mau ga? Gua bakalan bantu lo buat jadi orang yang keren banget nantinya. Bukan keren gara-gara bisa jadi artis di medsos. Tapi keren yang emang beneran keren. Lo suka menulis, kan? En lo mau terkenal ya, kan?”

Sasa tersenyum sambil ngangguk-ngangguk.

Seperti yang uda gua janjikan sebelumnya. Gua bakal ngebikin dia jadi orang yang keren. Oke, gua tau ini ga logis. Soalnya gua keren aja kaga *gue pun nangis di pojokan*. But gaapa deh, untuk sementara Sasa-nya dulu nih yang penting. Gua gamau dia kaya gini terus.

A’ight, basically definisi ‘keren’ yang gua maksud disini bukanlah keren kaya artis terkenal yang mantap banget di fashion en bla bla bla. Gak! Gak sama sekali...

Menurut gua orang yang keren itu adalah orang yang berhasil, orang yang bertalenta, orang yang berhasil meraih mimpinya, dan baik serta dekat pada Yang Maha Kuasa. En tentunya juga dikenal ama orang-orang yang sepemikiran dan bisa membantunya untuk terus maju.

Dan itulah yang gua janjikan ke Sasa. Walau mungkin aja itu takkan terjadi karna gua juga masih jauh dari definisi itu. But, gua yakin bersama Sasa gua juga bisa memperbaiki diri gua jadi jauh lebih baik lagi.

The Legend Of Tyeontae (Part 4)


Di kantin, selagi nunggu makanan di selesein ama mbaknya, gua pun ngobrol ama Sasa. Gua sumpah masi agak shock ama pernyataan dia tadi kalo dia ternyata pacaran but untuk sementara gua ga mau ungkit-ungkit tentang hal itu dulu.

Mumpung gue lumayan penasaran ama karakternya Sasa, gua pun akhirnya nanyain dia banyak banget pertanyaan mulai dari hobi, pertama kalinya menulis, cita-cita, impian, dan masih banyak lagi.

Sasa pun nyeritain tentang dirinya. Dia bilang ke gua kalo suatu saat nanti dia pengen kuliah di UGM en pas dewasa pengen jadi seorang psikolog. Dia juga udah tertarik ke dunia tulis menulis sejak SMP tapi belum pernah ada karyanya yang dirterbitin ama penerbit. Pokoknya banyak banget deh yang dia ceritain ke gua en gua seriusan ga nyangka banget.

Singkat cerita, gua bisa memetik beberapa hal dari apa yang dia ceritain tadi, Sasa adalah orang yang ambisius, idealis, dan easy going. Dia ga jauh beda ama gue (bedanya adalah gue lebih tampan dari Sasa dan gua sadar akan itu). Karakter dan pola pikir Sasa tuh seriusan sama kaya gue. Gue pun ngerasa kaya nemuin kembaran yang uda terpisah sejak lahir gara-gara kembaran satunya lagi dibebaskan ke laut lepas untuk menemui habitatnya.

But walopun sama dan sepemikiran, (mungkin) diakibatkan pergaulan yang gabaik, perilaku dia selama ini jadi gabaik juga. Ya gitu deh, buka-buka kerudung, pacaran, dll... Ketika berada di sekolah pun dia masi pake model jilbab minimalis yang tentunya ga sepenuhnya menutupi. Ini yang gua sayangkan banget dari dirinya.

Setelah itu gua juga sempat bercerita tentang diri gua, cita-cita gua, pengalaman gua selama ini, dan banyak lagi. Gua juga sempat ngasi tau dia banyak hal tentang ARKI dan progress serta perjuangan gua ama temen deket gua, Arief selama ini untuk bisa ikutan ARKI 2016.

Dan akhirnya setelah mengatasi kemungkinan adanya pergeseran lempeng pada perut Sasa di kantin, kami pun akhirnya pulang ke sarang masing-masing.

Oh, wait. Satu hal nih, pas lagi otw pulang kami ga sengaja papasan ama si Arief yang baru aja dibicarain tadi. Sumpah, panjang umur nih orang.

“Hei brooo... Wassup???”

“Heeiii, Dude.. Doin great..”

“Hei, is she Plain Face???” Arief nunjuk-nunjuk Sasa yang tak bersalah.

“Nahh.. She’s Innocent.”

“Oooohhh...”

Btw hanya orang-orang terpilih saja yang mengerti maksud pembicaraan diatas.

Malam harinya gua ama Sasa lagi-lagi chat-an en komitmenan buat berangkat sekolah bareng-bareng besok. Mumpung banget soalnya selama ini gua kalo pergi ke sekolah juga seringnya ngelewatin rumah dia. So akhirnya gua ama tuh benda pun sepakat buat berangkat bareng-bareng.

@Sulthan        : btw besok jam berapa?
@tyeontae       : Jam 7 tadi lu bilangkan? :v
@tyeontae       : Jam 7 sekolah kayak kuburan
@Sulthan        : masi sepi....
@tyeontae       : Itulaaaaah
@tyeontae       : Muter” dulu baru ke sekolah :v
@Sulthan        : ga ah... entar keringetan -_- ketek jadi bocor
@tyeontae       : Iyaudah gua aja :v
@Sulthan        : sendiri????
@tyeontae       : Lunya duluan gua mau muter :v
@Sulthan        : seriusan lo??? Langsung ke sekolah aja kaliii
@tyeontae       : ga kepagian bengong? :’v
@Sulthan        : ga dingg.. nyampenya entar sekitaran 7.15 gitu dehhh
@tyeontae       : Ya deh gua ikut lu :v

Keesokan paginya...

@tyeontae       : Taaan jadi?
@Sulthan        : gue oteweeeee

Nyampe di rumah Sasa, seperti biasanya Sasa pun keluar (lagi) dari sarangnya sambil menunggangi anak peliharaannya dengan senyum sesilau behelnya (Jujur, Sas... Behel lo itu bersinar bagaikan mentari).

Kami pun berangkat ke sekolah bareng-bareng sambil chatting lewat mulut. Enn karna gua cowo dan dia cewe, kami pun jalannya jauh-jauhan. Asal dia uda ngedeket, yha seperti biasanya...

“Husssshhhh!!! Hussshhh!!! Pergiiiih!!! Sana pergiiihhh!!!!” *nendang-nendang*

(Dear Sasa, maap uda perlakuin lo kaya kambing di rumah gua. Abis gua gabisa bedain (oh en... sejak kapan di rumah gua ada kambing??)).

Setiap hari kalo uda nyampe sekolah kami bakal markirin sepeda masing-masing di perkiran belakang sekolah lalu ke kantin sebentar buat shopping. Setelah itu baru deh gua ama Sasa berpisah ke koloni masing-masing.

Selama di sekolah gua ama Sasa seperti biasanya jarang banget ketemu, palingan cuma ketemu di kantin atau di pustaka. Dan seperti biasanya juga, susah banget buat nemuin kepala Sasa diantara beraneka ragam bentuk dan motif kepala yang disediakan di kantin. So palingan gua ama dia cuma ketemu kalo kebetulan papasan doang.

Ketika bel pulang bertereak ngusir semua murid dari kelas, semua murid pun bergegas ke musholla buat solat ashar. En pasca solat, baru deh terserah mau ngelakuin apa. Mau pulang, boleh. Engga pulang, boleh. Mau tinggal disitu ampe malem buat gantiin sekuriti juga boleh.

Nah pasca solat ashar gua biasanya langsung bergegas ke ruang DBE buat latihan English Debate. Sementara itu Sasa yang malang hanya bisa menunggu gua di depan ruangan. Timbul pertanyaan : Mengapa dia ga langsung pulang? Well, basically menurut BMKG cara mengemudi Sasa di jalanan tuh masih termasuk ke kondisi ‘waspada’ yang bisa-bisa saja membahayakan bagi masyarakat sekitar, terutama masyarakat yang tinggal di pedalaman (uda mulai ngawur gua). Makanya gua gabisa ngelepasin dia sembarangan, kalo dia bikin onar terus tau-taunya kelindes, mati syahid, iri gua.

Sekitar pukul 17.45 gua pun akhirnya selese latihan. Gua keluar, menghirup udara segar, en nemuin Sasa yang uda nungguin gua di depan ruangan sejak zaman pra aksara. Kondisinya uda karatan, bau, busug, basi.
Gua pun ngajak dia buat pulang en bergegas ke parkiran belakang sekolah. Nah, satu hal nih, ketika lo berjalan menuju parkiran maka lo bakal lewat di depan dua kamar mandi paling angker di sekolah ini. Terletak di depan tangga yang menuju ruang bahasa Inggris yang konon dipercayai ada penunggunya yang bernama Jessica dan dulunya meninggal akibat bencana tsunami 2004.

So setiap kali gua en Sasa ngelewatin ituh tempat, gua bakal punya dua opsi ;

*Opsi pertama merupakan opsi yang sangat mainstream. Gua hanya akan ngelewatin tuh tempat sambil jalan di depan Sasa en...

“Sasa, apaan tuh yang putih-putih???”

“DIAM!!!”

“Eh... Engga enggaaa... Ituh lantainya yang warna putih :) *tersenyum suci*”

*Dan opsi kedua adalah gua bakalan lari tunggang langgang ngelewatin tuh tempat kaya orang rabies en ninggalin Sasa jauh dibelakang sambil tereak-tereak,

“SAAASS!!! ITUH APAAN YANG PUTIH-PUTIH DI BELAKANG LOOO???”

Dan diikuti suara brutal Sasa dari belakang.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

Gua tersenyum suci :)

The Legend Of Tyeontae (Part 3)


A few day’s later...
@tyeontae       : Eh tadi gua liat lu lewat :|
@tyeontae       : <gadianggap T_T
@tyeontae       : Ingin berkata baik ~
@Sulthan        : Lewat dimana????
@tyeontae       : Di rsj
@tyeontae       : Di sekolah :v
@tyeontae       : Lu mau ambil wushu terus lewat :v
@tyeontae       : *wudhu
@Sulthan        : wushu = sejenis bela diri
@tyeontae       : Bukan itu maksud gua :v
@tyeontae       : Barusan dijemput
@tyeontae       : Lagi dijalan(~^_^)~
@Sulthan        : lo emg biasanya pulang ham segini???
@Sulthan        : *jam
@tyeontae       : Haaaaaaaaaam :v
@Sulthan        : Hak asasi manusia
@tyeontae       : Engga jugaa, tergantung siapa yang jemput, atau kalo ada eskul ya jam 6 T_T
@tyeontae       : Eh gua pernah minta dulu naik sepeda ga dibolehin -,-
@tyeontae       : Ham -> daging
@Sulthan        : daging pork
@Sulthan        : napa engga???
@tyeontae      : Gatau katanya “kamu itu perempuan nanti panas” blablabla” padahal udah gosong juga T_T

PS : Hya, bagi yang bertanya-tanya tentang warna kulit Sasa maka “gosong” adalah jawabannya. Diperkirakan ketika masi bayi sebenernya kulit Sasa tuh mengkilat bak kepala botaknya Dominic Torreto, but diakibatkan inkubator bayinya sempat korslet, Sasa pun nyaris saja berubah jadi sate sebelum akhirnya diselamatkan oleh Tim SAR dan dilepaskan ke alam bebas.

@tyeontae      : Gua sampai waktu sd saking pinginnya pergi naik sepeda ke sd, di prada, kan jauh itu sebenernya gua pergi sendiri T_T
@tyeontae      : ^curhat
@Sulthan        : sampe skrg masi gadikasiiii????
@Sulthan        : maap, masi bersepeda
@tyeontae      : Gaaaaaa T_T GAAAAK T_T Padahal labschool deket
@tyeontae      : lu belum nyampe rumah apa? :V
@tyeontae      : lelet, gua aja nyampe duluan
@Sulthan        : lg jalan2 nyari inspirasi :v
@tyeontae      : SEMOGA TERSESAT, GABISA PULANG, GA BISA ULANGAN BESOK, NASKAH GA KELAR
@Sulthan        : mampus gueeee
@tyeontae      : Eh gua minggu sering sepedaan loh, gua kedaerah tungkop jelajahin disitu gua udah masuk kemana” jauh, yang ada sawah itu jugaa :v
@Sulthan        : aha!!! Laen kali jalan2 bareng yokk.
@tyeontae      : Waaaa yukkk main bareng
Gua ngeliat kesekeliling, ternyata gua di Sektor Timur, bentar lagi bakal ngelewatin rumah Sasa.
@Sulthan        : sekarang lo masuk rumah, gue mo lewat
@tyeontae      : Gua kedepan
@Sulthan        : masuuuuuukkjjkjj

Gile nih makhluk. Pengen gua sembelih juga lama-lama.
Akhirnya agar tidak terdeteksi oleh sang Sasa, gua pun mendayung sepeda dengan lebih kencang. 240 km/h... Hmm..

Selagi mendayung, gua juga menatap layar N-Gage gua sambil mainin game Tom Clancy’s Ghost Recon : Jungle Storm, seriusan seru banget gamenya. Mumpung disini jalanannya lurus gitu aja kaya siratal mustaqim, gua pun bisa dengan amannya natapin layar N-Gage tanpa perlu memperdulikan apapun yang ada di hadapan gue baik itu motor, mobil, mas-mas tukang bakso, truk, tank, pesawat, dinosaurus, saturnus, apapun itu gua tetep lewatin aja tanpa khawatir akan nyawa, keselamatan, serta anak dan istri di rumah (APAH??).

Gua menoleh ke depan, oh no, rumah Sasa berada tepat di depan gua. Gua berusaha fokus, gimana caranya gimanapun gua harus bisa selamat di game en juga di dunia nyata dari serangan Sasa nirojim.

Gua mencoba tenang, merefleksikan ketenangan air yang ditenangkan dengan tenang oleh orang yang tenang dan memiliki rumah tangga yang tenang dan.. (cukup,than... Cukup...Garing...).

Beberapa meter lagi menuju rumah Sasa, gua engga ngeliat ada tanda-tanda kehidupan apapun di depan rumahnya so gua pun akhirnya bisa dengan santainya ngelanjutin game gua.

Dorr dorrr dorrr... He’s history! Got ‘em!

“Ohyeaaaahh headshot, baby!!!”

Ketika tengah khusyuk mengalir kedalam game yang sedang gua mainkan, iseng-iseng gua noleh ke rumah Sasa yang sekarang ini berada tepat di samping gue dan..

“ALLAHU AKBAAAAAAARRRR!!!”

Gua ngeliat penampakan sepotong perempuan berambut panjang yang sedang berdiri tepat di depan rumahnya Sasa, wajahnya tertutup oleh henpon yang kameranya sedang diarahkan ke gue. But satu hal yang gua sadari adalah kalau ternyata...

“SASAAAAAAA!!!! YOU SUUUCCCKKK!!!”

Wajahnya tersenyum selebar lapangan bola sambil memamerkan behelnya yang bersinar terpantul sinar mentari.

Gua pun akhirnya lewat dengan kondisi kritis dan mengenaskan.

@tyeontae       : Udah gua foto :v
@Sulthan        : you diiiieeeeeee
@tyeontae       : Ulalalala~
@tyeontae       : Apasih? :v
@tyeontae       : Lu yang die :v
@tyeontae       : Turut senang :v
@tyeontae       : Astagah tan foto lu derp :v
@Sulthan        : apuuuuuusss
@tyeontae       : Lalalala~
@tyeontae       : Gua gabisa baca yang lu tulis
@Sulthan        : apuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuussssssssss
@tyeontae       : Ga liaat
@Sulthan        : H A P U U U U U U U S S
@tyeontae       : Tidak akaaaannnnnnnn
@tyeontae       : TIDAK
@tyeontae       : TIDAAAAK
@Sulthan        : mo lo apain tuh poto haaa????
@tyeontae       : Simpan :v
@tyeontae       : Atau gua share?
@tyeontae       : :v :v
@tyeontae       : Iya dah ga gua share :v
@tyeontae       : Becanda becandaaaa
@tyeontae       : Sama gua doang kok fotonya tenang tan
@Sulthan        : apuuuuussshhhh
@tyeontae       : Gaakan :v
@tyeontae       : Tidak :v
@Sulthan        : pokonya apuuuuuuusssss
@tyeontae       : Nananananana~
@tyeontae       : Lu putih kok diftoto udah pakai efek :v
@tyeontae       : Wait
@tyeontae       : Difoto
@tyeontae       : Ada pespa depan lu :v
@tyeontae       : Mo nabrak pespa? :v
@Sulthan        : mo lindes pespa
@tyeontae       : Guttt
@tyeontae       : Kerja bagus nak
@Sulthan        : yg bener malah gue yang kelindes
@Sulthan        : APUUUUSSSSS
@tyeontae       : Lalalala~
@tyeontae       : Udah pulang sana :v
@tyeontae       : Baibai :v
@tyeontae       : KELINDES PESPA
@Sulthan        : apuuuussss
@tyeontae       : Kenapa dihapus?
@tyeontae       : Kenang”an oi :v
@tyeontae       : Gaakan gua hapus
@Sulthan        : goblok bener gue dipoto
@tyeontae       : Emang goblok :v
@tyeontae       : Lalalala~
@tyeontae       : Eh kapan” sepedaan yok, gua ajak ke tempat makan bakso murah banget
@tyeontae       : Sekalian gua kasih RACUN
@Sutlhan        : Apus dulu potonyaaaaaaaaaaa
@tyeontae       : Ti~dak
@tyeontae       : Candid
@tyeontae       : Udah terima nasib ajaa
@tyeontae       : <sakit perut ketawa T_T
@tyeontae       : Gasanggup T_T
@tyeontae       : Uda tidur?

Keesokan harinya...

@Sulthan        : sassaaaaaaaaaaa
@tyeontae       : Opoooooo Taaaaaanttee?
@Sulthan        : aaaaaaaaaappppuuuuuuussss

Gile dah nih percakapan. Abisnya kapan, coba??

Hari-hari berlalu, setelah saling berkomitmen, gua ama Sasa pun setuju buat jalan-jalan bareng. One thing about this : kami belum tau mau jalan-jalan kemana :v

@Sulthan        : otw nihhh lo kedepan terus
@tyeontae       : 5 menit ntaaar
@tyeontae       : Ke wc
@tyeontae       : 5 menit
@Sulthan        : gua di depaaaan

Sasa pun keluar dari sarangnya membawa sepeda peliharaannya dengan senyum sesilau behelnya.
Kami pun langsung bergegas ke SumpahGuaGatauMauKemana.
Awalnya kami sempet ngorbit disekitar kampus unsyiah sambil ngobrol-ngobrol. Satu hal nih, karna gua cowo en dia cewe, kami pun jalannya jauh-jauhan. Asal dia uda ngedeket, gua bakal...

“Husssshhhh!!! Hussshhh!!! Pergiiiih!!! Sana pergiiihhh!!!! (sambil nendang-nendang)”

Dan pada akhirnya kami pun memutuskan untuk singgah di taman deket tempat pengajian gua dulu.

Nyampe disana gua ama Sasa pun berpisah. Hyaah kan katanya kalo berduaan ama yang bukan muhrim, entar pihak ketiganya adalah setan, apalagi kalo ditempat kaya gini (mampus deh lu).

Gua menghampiri sebuah ayunan yang ada di sebelah kiri taman. Sementara itu Sasa bergegas ke ayunan lain yang kebetulan banget hadapan ama ayunan yang gua naikin walopun berjarak 50 meter jauhnya.

Gua lalu ngerogoh kantong untuk menggapai smartphone terkutuk gua yang dari tadi uda kehabisan napas gara-gara ga gua keluar-keluarin. Pas gue keluarin pun kondisinya uda semaput en kepaksa gua beri napas buatan (pertanyaan : ngasihnya lewat mana coba?).

Dan pada akhirnya gua pun jadi sibuk sendiri ama henpon gua. Sesekali gua nengok Sasa yang berada diujung dunia en ternyata juga sedang khusyuk ama henponnya sendiri.

Setelah sekian lama bersemayam di taman, Sasa ngedatengin gua en curhat sampe berlinang aer mata kalau dirinya sedang kelaparan en pengen makan. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kanibalisme, gua pun nurutin permintaan dia buat pergi ke sebuah kantin yang berjarak ga terlalu jauh dari taman.

Sebelom bergegas, gua nengok ke ujung taman en ga sengaja nampak sepasang cewe dan cowo yang sedang duduk dempet-dempetan en bermesra-mesraan bareng.

“Er... Sas, coba deh lihat kesana. Lo kesel ga sih ama orang-orang yang pacaran? Gua sih iya. Menurut gua ga banget soalnya. Coba deh liatin, pantesan aja Aceh syariat Islamnya uda lemah banget, orang masyarakatnya ginian.”

“Hhh... Iya...”

“Mereka tuh orang-orang yang terlalu mengikuti arus globalisasi tanpa bisa ngefilter. Pokonya mereka tuh... Ga diajarin apa?”

“Lha gua juga dong...”

“Apa??? Ja... Jadi... Lo pacaran????”

“Err... Iya..”

Oh bumi, telanlah Sasa.