Minggu, 13 Januari 2019

Bitter Truth : Me And My Parents

Ku mulai menulis tulisan ini pada malam menjelang pagi dan sejak tadi aku masih belum tertidur. Ini biasa bagiku, menghabiskan waktu malam untuk melakukan apapun yang aku inginkan dan melampiaskan keinginanku untuk berkarya dan berpikir.
Karena itu ketika di cek ternyata ginjal dan liverku serta darahku sudah mulai bermasalah. Aku jarang tidur karena banyak pikiran dan aku menikmati waktu malam untuk refreshing agar aku merasa lebih baik walau kadang aku akan mual dan pergi ke wastafel.
Setelah bertahun-tahun larut dalam masalah yang sama, ini adalah keputusan akhirku.
Kemarin Mama sudah bilang padaku, “Kalau mau menyebarkan soal ini ke orang-orang, silahkan!”
Karena itu biarkan aku sedikit menceritakan kisah pahitku yang kira-kira seperti ini.
Sekitar 5 tahun yang lalu sepulang les di malam hari dan lelah sudah mengisi ruang-ruang kosong di kepalaku, papa menjemputku lalu mengajakku untuk membeli sepatu baru untukku karena sepatuku sudah koyak dan hancur.
Aku menolak karena ingin cepat kembali ke rumah dan beristirahat. Tetapi papa terus membujukku walau aku terus saja menolak. Kami biasanya membeli sepatu di daerah kota yang berjarak belasan kilometrer dari bimbelku karena tempat itu memiliki koleksi sepatu-sepatu yang bagus dan berkualitas. Tetapi malam itu karena ku sudah mengotot sekali untuk pulang, papa akhirnya berhenti didepan sebuah toko sepatu yang berjarak tak jauh dari rumahku. Papa memaksaku turun tapi aku menolak, aku memang tidak mau beli sepatu baru dulu lagipula sepatuku masi bisa kupakai dan aku nyaman-nyaman saja menggunakannya. Tidak harus terlalu terburu-buru untuk membeli yang baru. Tunggu saja agar di hari lain bisa ke daerah kota untuk membelinya. Papaku sempat mengambil sepatu dari dalam toko lalu menunjukkannya kepadaku tapi aku tak menyukainya sehingga aku bilang bahwa aku tak mau sepatu itu.
Akhirnya papa menyerah dan masuk kedalam mobil dan sedikit mengata-ngataiku dalam perjalanan pulang.
Seingatku sesampainya di rumah aku masuk kedalam kamar, menaruh barang-barangku lalu aku keluar, mengambil sepatuku lalu masuk kembali kedalam kamar dan mencoba untuk menjahitnya. Setidaknya nanti masih bisa dipakai untuk beberapa hari.
Papa membuka pintu kamarku, menemukanku Bersama sepatu usang itu yang sedang kucoba untuk perbaiki. Papa mengataiku kalau aku menggunakan sepatu ini ke sekolah maka akan menimbulkan fitnah, orang akan mengira papa tak mau membelikan sepatu baru untuk anaknya. Aku bilang kalau tak ada yang begitu peduli soal sepatu yang kugunakan lagipula normal bagi anak sekolahan jika terkadang sepatunya berantakan, nanti juga akan dibelikan yang baru. Papa tetap ngotot kalau itu akan membuat orang mengira yang buruk-buruk tentang dirinya sementara aku terus mengatakan kalau itu takkan terjadi, menurutku itu tak masuk akal. Lagipula aku tak mau keluar lagi untuk membeli sepatu baru tengah-tengah malam.
Karena aku terus saja menjawab perkataan papa, papa kesal lalu mengambil sepatuku yang usang itu lalu keluar dari rumah dan melemparnya ke sawah. Aku syok karena tidak percaya papa akan melakukan hal seperti itu pada sepatuku. Aku akhirnya mengatakan “Biar sulthan cari.”
Saat hendak keluar untuk mencari sepatuku, Papa malah membentakku dan menyuruhku angkat kaki dari rumah. Wajah papa saat itu sangat mengerikan dan aku sungguh ketakutan tapi seperti biasanya setiap papa marah dan menunjukkan wajah mengerikannya itu aku mencoba untuk tetap berani walau sesungguhnya jantungku berdetak kencang.
Aku lalu mengatakan “Yasudah biarkan sulthan ambil barang-barang sulthan dulu.”
Dengan wajah monsternya papa mengatakan, “Ga ada yang punya sulthan di rumah ini! Semuanya punya papa!”
Saat itu aku sempat berpikir bahwa malam itu aku akan berakhir dengan tidur tanpa alas. Tetapi mama pun datang dan mencoba meredakan emosi papa yang tampak seperti orang kesurupan itu. Wajahnya sangat mengerikan, matanya melotot dengan tajam dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa sangat ketakutan. Urat-uratnya tampak keluar dari kulit dan aku benar-benar sudah menyiapkan diriku karena disaat-saat seperti ini papa akan memukulku dengan sangat keras. Bahkan dulu ketika SD kelas 4 atau 5 aku pernah dicubit sampai pipiku luka dan berdarah. Aku pun menjadi ejekan teman sekelasku karena aku tampak aneh dengan luka di pipiku itu.
Malam itu pun aku diperbolehkan untuk tidur di dalam rumah. Walau begitu aku tak bisa bohong bahwa aku benar-benar syok dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku. Takut, marah, sedih, malu, lelah, gelisah, semuanya bercampur aduk dan membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku tak tahu apa yang salah denganku. Aku sudah terusir, aku sampah, papa benci padaku, papa monster. Pikiran negatif itu tertanam dengan baik di dalam kepalaku sehingga membuat Sulthan si anak yang selalu aktif dan tertawa berubah menjadi anak yang pendiam dan tak pernah tersenyum.
Aku awalnya tak mengerti apa yang salah denganku. Mengapa aku tak kunjung bisa merasa tenang dan kembali bersenang-senang bersama keluargaku? Biasanya masalah di dalam keluarga akan terlupakan setelah beberapa hari. Tetapi mengapa aku masih terus merasa tidak tenang, sedih? Sekarang aku baru paham kalau itulah yang disebut dengan trauma. Memang kesannya lebay, orangtuaku selalu menganggap bahwa aku adalah seorang anak durhaka yang benci dan menyimpan dendam yang sangat dalam kepada papa. Mereka juga mengatakan bahwa aku adalah anak yang sombong karena tidak mau senyum kepada orangtua sendiri. Padahal aku sendiri tak mengerti apakah aku ini benci apa tidak, yang kutahu adalah setiap kali ku melihat orangtuaku, aku merasa tidak tenang, terancam, stress, takut, dan lain-lain. Mereka membuatku down karena itu aku berusaha untuk mengasingkan diri dari mereka dan mencari hal lain untuk dilakukan.
Walau aku stress dan down, orangtuaku tidak pernah sama sekali peduli mengenai hal itu, yang mereka pedulikan hanyalah kesalahan-kesalahanku. Setiap kali aku berbicara dengan mereka mengenai masalah yang kualami aku akan selalu mendapat tuduhan. Mereka terus menyalah-nyalahkanku, merendahkanku, dan ini tentu saja membuatku semakin down. Melihat mereka saja sudah cukup untuk membuatku tidak tenang, apalagi mendengar ocehan mereka.
Tak hanya itu, mereka juga selalu membesar-besarkan kesalahan yang kubuat walau sekecil apapun masalah itu. Dan kebaikan yang kulakukan benar-benar tak bernilai di mata mereka. Mereka akan terus mencari kesalahan yang bisa diungkit lalu memarahiku, menceramahiku sampai berjam-jam di malam hari, atau menamparku. Mama juga pernah melempar barang-barang kearahku seperti orang gila karena pada waktu itu aku bilang pada mama kalau aku mungkin butuh diruqyah seperti sebelum-sebelumnya tetapi papa juga harus dibawa untuk diruqyah juga. Sudah berkali-kali aku diruqyah tetapi kesannya tak memberikan hasil apa-apa. Tak ada yang berubah. Orangtuaku lalu menuduh kalau aku tidak ikhlas diruqyah karena itu setannya tidak mau keluar. Padahal aku santai saja ketika diruqyah bahkan aku pernah mencoba meruqyah diri sendiri.
Akhirnya karena aku menyuruh agar papa juga diruqyah, mama malah bilang kalau aku adalah masalahanya, bukan papa. Aku tidak setuju, ketika papa marah padaku wajahnya seperti orang kesurupan dan papa juga menurutku pemarah karena itu aku ingin papa diruqyah juga. Permintaanku untuk diruqyah bareng itupun berakhir dengan mama marah-marah dan mengatakan kalau aku adalah anak durhaka yang benci pada orangtua, mama juga melemparkan barang-barang kearahku sambal menyuruhku untuk pergi dari rumah. Untung ada nenek yang datang dan menenangkan suasana sehingga malam itu aku masih bisa tidur dirumah.
Aku tidak merasa senang di rumah dan karena itu akhirnya aku mencoba untuk mencari kesenangan dengan caraku sendiri. Mungkin bagi kalian yang dekat denganku saat SMP tau betapa buruknya aku pada waktu itu. Sesuatu yang tak perlu kuceritakan.
Aku tau orangtuaku akan menyalahkanku sepenuhnya dalam hal ini, orangtuaku tak akan pernah merasa bersalah sama sekali. Mereka sering bilang padaku,
“Kurang apa lagi kami?” Dan berlagak seperti mereka adalah orangtua terbaik di dunia. Mereka sering membandingkan diri mereka dengan orangtua-orangtua kejam lainnya diluar sana tapi tak pernah membandingkan diri mereka dengan orangtua-orangtua yang baik pada anak mereka.
Mereka juga sering membanding-bandingkanku dengan masa kecil mereka tapi menurutku itu tidaklah perbandingan yang senilai. Tentunya itu berbeda.
“Do not force your children to behave like you, for surely they have been created for a time which is different to your time.” -Imam Ali (as)
Tentu saja berbeda, aku bukanlah orangtuaku dan orangtuaku bukanlah aku. Lagipula aku tidak pernah membandingkan diriku dengan papaku yang ketika masa remajanya bermain band dan pergi ke klub malam atau mamaku yang bahkan berpakaian minim saat keluar rumah. Apakah masa mudaku yang dipenuhi event-event nasional, kreativitas dan produktivitas ini terdengar negatif di telinga mereka? Entahlah. Mereka terus memaksaku untuk sama dengan mereka dan itu membunuhku.
Mereka menuduhku benci, sombong, ada setan dalam diriku. Tetapi setiap kali di ruqyah tidak ada yang berubah dariku. Well, kurasa masalahnya ada di otakku, trauma. Penelitian juga mengatakan kalau setiap kali seorang anak dimarahi atau dibentak oleh orangtuanya maka akan ada sarafnya yang putus, mungkin ini adalah salah satu alasanku kenapa aku sering lupa terhadap sesuatu dan tak mengerti pelajaran di sekolah.
Aku stress dan tidak pernah merasa kalau rumah adalah rumah bagiku. Ini mebuatku menjadi orang yang keras karena aku bukanlah tipe orang yang akan menangis ketika diserang, aku akan melawan dan memberi perlindungan kepada diriku sendiri saat merasa terancam. Karena itu setiap kali orangtuaku berbicara padaku, aku sudah siapkan kata-kata, amunisi untuk menangkis serangan mereka yang kerap menyalah-nyalahkanku dan membuat moodku hancur. Aku juga tak segan untuk berkata kasar kepada orangtuaku karena aku memang sudah tidak tahan lagi untuk hancur, aku haru melawan. Aku tak mau menangis, aku harus kuat, stress ini membunuhku dan aku takkan membuat diriku larut dalam kesedihan yang hanya akan memperburuk keadaanku sendiri.
Sifat melawanku ini tentu membuat orangtuaku marah dan mengatakan kalau aku adalah anak durhaka yang kurang ajar, tak jarang aku menerima pukulan yang rasanya memekakkan pendengaranku.
Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Aku hanya tidak ingin sedih dan keinginan itu membuatku tak bisa mengontrol diriku, aku akan melakukan apapun demi melawan karena aku takut dan merasa terancam. Ketika aku masih kecil aku sempat memiliki bipolar disorder dan kurasa itulah yang membuatku jadi tidak bisa dikontrol seperti ini. Aku bahkan pernah bilang bahwa papa adalah b*jingan betapa aku tidak tahan lagi dengan tekanan di dalam diriku. Tak hanya itu, aku pernah mengambil pisau dan berencana untuk membunuh papa dengan pisau itu.
Stress, sedih, itulah yang kurasakan. Aku tidak tahu apa yang bisa mengobatiku. Aku sudah mencoba untuk sering bersama teman-teman, mengikuti kegiatan-kegiatan positif tapi setiap kali aku pulang dan melihat wajah orangtuaku aku akan kembali merasakan hal yang sama.
Orangtuaku sangat anti untuk membawaku ke psikolog atau seseorang yang mengerti psikologi karena dianggap menyimpang dari islam, menggunakan logika bukan agama, paham kebarat-baratan, paham orang Yahudi. Tetapi nyatanya psikologi juga dipelajari dalam Islam, aku bahkan sudah mendengar ceramah Ust. Khalid Basalamah dimana beliau mengatakan kalau psikologi itu boleh-boleh saja dan bukanlah sebuah masalah. Temanku juga kaget ketika aku menceritakan tentang hal ini karena ia juga sering membaca buku psikologi islam di perpustkaan. Miris sekali orangtua seringkali memaksa anaknya bahkan membentak-bentaknya tanpa mengetahui kalau sebenernya mereka secara psikologis sedang membunuh anak mereka perlahan-lahan.
Sebenarnya aku sudah sempat ke psikolog sekali dan psikolognya menyuruh papa untuk datang juga menemuinya karena tidak mungkin masalah bisa diselesaikan dari satu belah pihak saja. Ketika aku bilang pada papa bahwa ia harus ikut ke psikolog ia malah marah dan bilang,
“Gak ada psikolog dalam islam!”
Aku pernah bilang pada mereka bahwa mengajari Islam tidak boleh dengan cara yang kasar atau melukai hati seseorang. Selama ini mereka mengajariku Islam dengan cara yang menurutku tidak tepat. Terus saja mengatakan kalau aku ini orang kafir (mereka mengatakannya secara tersirat agar mereka tidak dituduh mengkafirkan), mereka juga bilang kalau Allah akan menghukumku, mereka bilang kalau api neraka panas dan orang-orang sepertiku akan masuk kedalamnya. Tetapi mengapa mereka tak pernah mengajariku bahwa Allah itu Ar-Rahmaan, Ar-Raheem, Allah itu Maha Baik? Mereka mengajarkan ketakutan dalam diriku sehingga aku pun tidak bisa menemukan arti dari Islam Itu Indah seperti yang orang-orang katakan. Padahal jikalau aku sudah ditanamkan cinta kepada Islam sejak aku masih kecil tentu aku akan melakukan perintah Allah dengan senang hati tanpa merasa terpaksa sama sekali. Orangtuaku membuatku merasa tidak nyaman berada di Islam, Islam penuh dengan ketakutan dan ancaman, padahal setelah sekarang aku belajar ilmu agama lebih dalam lagi aku baru sadar ternyata Islam tidaklah menyeramkan dan karena itu sekarang aku menemukan keindahan Islam serta ketenangan di dalamnya. Jika aku terus saja di salahkan dan dituduh, bagaimana mungkin aku merasa nyaman dan termasuk bagian dari Islam? Tentu aku merasa diasingkan.
Singkat cerita cara orangtuaku mendidik telah membuatku jadi anti terhadap Islam sejak aku masih kecil dan membuat solatku dan ibadah-ibadahku itu hanya sebatas agar menunaikan kewajiban saja bukan karena aku ingin melakukannya.
Tidak betah dirumah, aku sebenarnya sempat kabur dari rumah dua kali. Pertama kali aku kabur dari rumah benar-benar terasa aneh bagiku. Aku memutuskan untuk untuk tidur di masjid dan pada tengah malam tiba-tiba aku bertemu seorang pemuda yang menggunakan jubah, rambutnya gondrong dan tak berantakan, tubuhnya kurus dan matanya tampak aneh dan mengerikan. Awalnya aku ketakutan melihatnya tetapi setelah dia bicara padaku ternyata dia adalah orang yang cukup ramah. Ia bilang ia berasal dari sebuah pondok pasantren dan malam itu sedang ingin tidur di masjid. Aku berkenalan dengan dirinya tetapi aku lupa namanya, namanya terdengar seperti nama-nama orang soleh dari masa lalu. Kami sempat berbincang panjang dan ia juga sempat bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Kami menjadi dekat malam itu tetapi ketika waktu subuh telah tiba aku berpamitan dengan dirinya dan memutuskan untuk solat di masjid lain.
Aku memutuskan solat di masjid yang lumayan jauh dan beruntungnya aku karena masjid itu membagi-bagikan nasi untuk semua jamaah sehingga aku pun bisa menikmati sarapan pagi itu.
Selanjutnya aku tidak ingat apa yang terjadi. Yang kuingat adalah aku sudah berada dirumah, aku duduk diatas sofa dan kulihat mama di depanku menanyakan soal diriku. Aku diam, aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku, kepalaku terasa berat dan aku tidak sanggup berpikir.
Aku lalu keluar dari rumah dan kembali meninggalkan rumah tanpa berbicara. Saat sedang dalam perjalanan aku tiba-tiba berpapasan dengan mobil papa. Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya, yang kuingat papa menjatuhkanku ke tanah lalu menyeretku pulang. Aku berteriak meminta tolong hingga ada seorang tetangga yang keluar dari rumahnya dan berteriak ke papa. Papa pun mendatanginya lalu mengatakan padanya kalau aku memang suka membuat masalah, aku adalah anak yang tak mau mendengarkan orangtua, dan lain-lain. Papa berbicara dengan santai sambil tersenyum ramah sementara aku tidak diberi kesempatan untuk bicara.
Setelah akhirnya membuat sang tetangga merasa kalau papa tidak salah dan papa hanyalah orang baik, kami pun pulang tapi aku tetap menolak hingga aku berakhir di rumah tetanggaku. Aku benar-benar tak ingat apa yang terjadi karena pikiranku kacau saat itu dan aku tak bisa mengontrol diriku. Aku ketakutan, gelisah, aku tak bisa menggambarkan betapa buruknya perasaanku waktu itu.
Setelah aku mulai sadar dan pikiranku mulai tenang aku pun pulang kerumah dan sesampainya dirumah mama bilang padaku,
“Sulthan tadi pura-pura kaya orang gila kan? Sekali lagi Sulthan kabur dari rumah, Sulthan ga usah pulang lagi.”
Pura-pura? Aku bahkan tak ingat apa yang baru saja terjadi. Kata-kata mama menempel erat dalam kepalaku sampai sekarang. Aku sadar kalau keluargaku memang menginginkanku untuk pergi karena aku hanyalah sumber masalah dirumah.
Stress, trauma, bukannya semakin membaik aku malah merasa semakin hancur. Aku sudah beberapa kali ingin bunuh diri bahkan sampai saat ini aku masih sering berpikir seperti itu. Kurasa mereka hanya akan peduli padaku setelah aku pergi. Karena itu aku sering sekali berpikir untuk mati terutama ketika aku sedang berkendara di jalan raya.
Kali kedua aku kabur dari rumah aku membawa beberapa set seragam sekolah karena saat itu ujian sedang dilaksanakan. Selama aku kabur orangtuaku sering menghubungiku merayu agar aku pulang dan berjanji akan berubah dan menjadi lebih baik lagi. Tetapi aku sudah hafal betul karakter mereka karena itu aku menolak. Lagipula aku kabur dari rumah juga karena semalam sebelum aku kabur papa sempat mengusirku.
Selama tidak berada dirumah aku merasa cukup bebas dan tidak stress karena aku bisa bersepeda kemanapun yang aku mau, sejauh apapun yang aku mau bahkan hingga tengah malam. Ternyata kota Banda Aceh tampak begitu indah pada jam 12 malam. Jalanan yang lebar itu kosong dan memantulkan cahaya dari lampu-lampu jalanan berwarna oranye. Udara malam juga sangat dingin dan segar walau sebenarnya tidak sehat tetapi aku terus mengayuh sepedaku berkeliling kota semauku.
Keesokan harinya mama mengabarkan padaku bahwa papaku terkena sakit jantung, stress karena aku pergi dari rumah. Tetapi aku tidak peduli, aku masih ingin menikmati kebebasanku ini hingga tiba saatnya aku kehabisan seragam sekolah. Tak ada cara lain, aku terpaksa pulang.
Pada jam 10 malam waktu itu aku pulang dan mengetuk pintu, tidak terlalu ingat apa yang terjadi tetapi mama tidak tampak sedih ataupun rindu sama sekali setelah aku pergi sekian lama. Aku masuk kedalam kamar lalu ditanya-tanyai oleh mamaku sambil diceramahi seperti biasa. Tetapi aku tak peduli, aku hanya ingin pulang, mengambil seragamku lalu besok aku akan kembali keluar. Saat mama sedang bicara denganku papa pun masuk kedalam kamar dan wajahnya tampak menjijikkan sekali, ia tampak sedih dan menyesal (wajah yang sama ketika ia selama ini pura-pura tersiksa ketika aku menangkis hantamannya, ia akan pura-pura jatuh sambil berteriak kesakitan padahal tangkisanku tidaklah kuat sama sekali). Lalu ia datang kepadaku dan memelukku, aku sungguh geli dengan apa yang dilakukannya itu. Aku tidak tahan, aku menolak dan menyingkirkan papa. Papa dengan wajah palsunya itu meminta maaf padaku dan berlagak seperti ia sungguh menyesal dan akan berubah. Aku sudah hafal betul karakter papa karena itu aku tidak mau merespon apa-apa. Aku tau suatu saat nanti papa akan kembali menamparku.
Aku merasa lumayan terobati dengan kaburnya diriku dari rumah. Aku merasa lebih tenang walaupun setiap aku melihat papa moodku akan kembali hancur tanpa sebab. Sejak kejadian itu papa memang sudah tidak secerewet dulu, aku tak lagi dipaksa untuk solat di masjid, aku dibiarkan melakukan apa yang aku inginkan, aku tidak lagi dibangunkan untuk solat subuh, aku juga tidak lagi diajarkan ilmu agama.
Sejak saat itulah aku mulai mencari arti hidup dengan sendirinya, tak ada yang perlu memberitahuku apa yang harus kulakukan, aku akan melakukan apa yang aku mau. Dan luar biasa sekali karena disaat inilah aku akhirnya berhasil menemukan keindahan Islam yang selama ini tersembunyi dariku. Karena itu aku memutuskan untuk hijrah, kebiasaan-kebiasaan lamaku yang buruk sudah mulai kutinggalkan, aku mulai mengikuti pengajian dan juga mulai membaca lebih banyak lagi mengenai islam.
Disinilah aku baru menyadari bahwa yang dikatakan oleh orangtuaku selama ini adalah pembodohan, disini aku baru sadar ternyata orangtua juga bisa salah kepada anaknya. Selama ini orangtuaku mengatakan bahwa orangtua bisa mendidik anaknya semau mereka karena anak itu sendiri adalah milik mereka. Tetapi mereka lupa kalau anak itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar dan mendidiknya juga harus dengan cara yang benar, yang sesuai dengan dirinya, dan lebih mementingkan perasaannya.
Aku pernah bilang pada papaku,
“Banyak orang-orang malah pergi dari Islam karena dakwahnya salah kaya gini. Dakwah juga harus ada aturannya.”
Lalu papaku menjawab,
“Jadi Sulthan mau mengikuti pemikiran orang-orang barat gitu? Itu pemikiran orang barat emang kaya gitu.”
Dan ternyata setelah kutelusuri, kata-kataku itu ternyata sudah tertulis di dalam quran.
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
Jadi ternyata itu bukanlah pemikiran orang barat, tetapi ayat Allah. Sayangnya kalau aku atau orang yang lebih rendah darinya berbicara, papa takkan mau mendengar bahkan kerap merendahkan dan berkata kalau dirinya lebih tau. Ia lupa kalau salah satu adab berdakwah adalah untuk tidak merasa paling tahu dan paling benar.
Sekarang aku sudah banyak melakukan perubahan dalam hidupku. Salah satu perubahan terbesar adalah jika dulu aku melampiaskan stressku dengan melakukan hal-hal yang tak dibenarkan, kini aku melampiaskannya kedalam karya-karyaku, musik. Aku membuat lagu kerap sekali memiliki lirik-lirik yang hanya aku mengerti maksudnya. Ini semua tergantung mood dan cerita yang sedang kuhadapi. Karena itu ketika aku merasa tenang aku akan membuat lagu-lagu yang memotivasi tetapi ketika aku sedang marah dan emosi aku akan membuat lagu yang terdengar lebih keras dan banyak mengkritik walau aku sendiri tak mendengarkan lagi lagu-lagu keras. Aku membiarkan kemarahan dan stressku mengalir kedalam alunan nada dan kata-kata yang aku sampaikan dan ternyata itu tak hanya dapat melampiaskan perasaanku, tetapi juga membimbing beberapa temanku ke arah yang jauh lebih baik. Beberapa temanku mulai berubah karena termotivasi dari karya-karya yang aku buat, banyak dukungan yang aku dapatkan dari mereka sehingga aku merasa lebih bersemangat dan lebih positif.
Sayangnya setelah perubahanku ini masih saja ada yang membuatku down. Siapa? Tentu saja orangtuaku.
“Youre not doing this for dawah. Youre doing this just to show people that you can. You think you can pull people to islam like this?” Begitulah yang papa bilang padaku.
Sebenarnya aku mulai tertarik ke Islam juga karena mendengar lagu-lagu rap islami, ini membuatku termotivasi untuk melakukan hal yang sama agar setidaknya aku bisa juga menarik orang-orang untuk lebih dekat dengan Islam, bukan untuk show off seperti yang papaku katakan.
Saat aku mencoba untuk meng upload video murottal di Instagram papa juga bukannya menyemangati tapi malah bilang,
“Papa udah dengar sulthan ngaji di Instagram. Banyak kali tajwidnya yang salah.”
Aku tak pernah diajarkan murottal oleh orangtuaku, aku belakangan belajar sendiri. Tetapi bukannya dukungan aku malah mendapatkan kritik dari papa. Melihat papa saja membuatku down, sehingga kritik ini pun langsung menghancurkan semangatku. Mama juga menyuruhku berhenti melakukannya dengan dalih itu hanya akan membuatku riya dan takabbur. Jujur, aku selama ini belum mengupload video murottal karena takut akan riya. Tetapi setelah aku mencoba untuk lebih meluruskan niatku, sampailah aku pada titik dimana aku akan melakukan ini untuk Allah dan bukan orang lain. Karena itu aku matikan comment sectionnya dan aku tak terlalu memperhatikan progress yang dilakukan oleh postingan itu.
Setelah aku hijrah aku juga masih terkadang membuat kesalahan tetapi hijrahku malah menjadi sebuah amunisi bagi orangtuaku untuk mengatakan kalau aku ini tidak benar hijrahnya dan aku ini hanya anak yang memelihara kebodohanku (note : tidak ada hijrah yang tidak sempurna, yang ada hanyalah proses).
Orangtuaku selalu mengkritik, tidak mendukung, selalu komplain, tidak memberikan solusi, ini membuatku down dan sempat beberapa kali memutuskan untuk berhenti hijrah dan kembali ke diriku yang dulu. Untungnya teman-temanku, guru, ustad, mereka selalu ada untuk menyemangatiku. Bahkan Bang Muzammil Hasballah sendiri bilang padaku,
“Memang awalnya kita akan dibilang riya dan lain-lain. Tak usah pedulikan dan terus lakukan.”
Karena itulah dakwah akan terus kulakukan walau aku hanya seorang pendosa yang jauh dari kata sempurna.
Walau aku tampak seperti orang yang ceria dan seru jika dilihat dari konten-konten yang aku buat, nyatanya traumaku masih menghantuiku dan aku masih merasa down setiap melihat orangtuaku.
Kemarin aku dibawa liburan ke Kuala Lumpur tapi bahkan sebelum berangkat saja mama sudah mengomentariku dan menyalah-nyalahkanku. Selama di Kuala Lumpur aku juga sering bersama orangtuaku sehingga aku benar-benar tidak menikmati perjalanannya. Aku harap suatu hari aku bisa kembali lagi ke Kuala Lumpur bersama teman-temanku yang selalu ada disana ketika aku merasa down.
Memang orangtuaku memberiku harta dan kebutuhanku, tetapi mereka juga berhasil membuatku trauma dengan keluargaku sehingga aku tak akan pernah tenang ketika aku bersama mereka.
Sampai sekarang aku masih kebingungan dan terus mencari solusi. Sudah berkali-kali bicara dengan orangtua tentang apa yang aku rasakan, ujung-ujungnya akan berakhir aku yang disalahkan. Karena itu aku sudah tidak berani lagi bicara.
Seperti tadi malam mama masuk ke kamarku dan mengajakku untuk bicara tetapi aku terus saja menolak.
“Kamu sampai kapan mau jadi anak durhaka kaya gini?”
Aku hanya diam, aku hanya ingin sendiri dan tak diganggu. Mama takkan sama sekali menyelesaikan masalahku, tetapi hanya akan membuatnya semakin buruk.
“Sulthan mau apa?”
“Sulthan perlu orang lain yang bicara. Sulthan ga mau bicara.”
“Yaudahkalo gitu mulai malam ini mama sama papa juga ga akan bicara lagi sama Sulthan.”
Mama lalu pergi kembali ke kamarnya. Sudah kukira akan begini baik jika aku bicara ataupun tidak. Pasti pada akhirnya aku akan dapat masalah lagi.
Sekarang aku stress, dan traumaku terasa menusuk ubun-ubun, aku tidak berani melihat wajah orangtuaku lagi, aku sedih terhadap diriku sendiri dan marah pada keadaan. Tetapi aku tetap tak akan membiarkan diriku menangis ataupun meneteskan air mata. Tidak akan. Aku tak akan lemah dan aku akan tetap bertahan walau keadaan sebenarnya sudah sangat berantakan.
Terkadang aku iri terhadap adik-adikku yang bisa dengan bebas melakukan apa yang mereka mau tanpa disalahkan sama sekali. Sekecil apapun kesalahan yang kuperbuat pasti akan dikritik dan dikomentari sementara ketika adikku mengidolakan perempuan-perempuan setengah telanjang yang berjoget diatas panggung orangtuaku membiarkannya saja. Adikku juga menyimpan beberapa foto perempuan seksi dan kurasa itu bukanlah sebuah masalah di mata orangtuaku. Adikku juga sempat me like dan mengkomen sebuah postingan berbau porno dengan "Kok aku ketawa ya liatnya". Tapi kurasa orangtuaku tidak terlalu peduli atau mungkin tidak tahu. Mereka selama ini mengaku paling tahu karena telah hidup lebih lama padahal aku lebih mengerti sistem yang sedang berlaku sekarang karena aku mengalaminya langsung. Aku menjauhi anime dan kpop karena kutau itu akan merusakku. Sementara orangtuaku yang tidak tahu tentang itu membolehkan adik-adikku bahkan mereka bangga karena adikku jadi bisa menggambar dan berbahasa Jepang. Di sisi lain adikku sudah jatuh kedalam pornografi, hentai yang memang sudah menjadi hal yang biasa dalam dunia anime dan konten-konten Jepang.
Aku sudah tidak bisa berpikir dengan baik lagi. Aku awalnya ingin mengikuti beasiswa ke Malaysia dan Turki tetapi aku sudah terlalu pusing untuk memikirkan itu sehingga kurasa akan ku batalkan rencana itu. Aku juga semakin tidak fokus dalam pelajaran, pelajaran sama sekali tidak masuk kedalam otakku apalagi pelajaran IPA, karena itu aku memilih untuk mengambil IPS dalam tes masuk kuliah nanti.
Tetapi jujur aku sudah tidak tahu lagi kemana arah hidupku. Traumaku ini semakin lama hanya membuatku semakin terbunuh. Aku stress dan depresi sehingga semuanya tampak berantakan. Andai aku bisa bersih dari semua dosa, aku ingin sekali hidupku berakhir. Aku sudah lelah dengan semuanya.
Aku butuh pengertian, aku butuh  seseorang yang bisa membantuku, seseorang yang tak berpotensi direndahkan oleh orangtuaku karena orangtuaku kerap meremehkan orang yang lebih  muda atau orang yang ilmu agamanya masih sedikit. Aku ingin punya masa depan yang cerah, aku ingin punya pekerjaan, aku ingin merantau. Tetapi selama masalah ini tidak terselesaikan kurasa mimpiku hanya akan selamanya menjadi sebuah mimpi.
Aku butuh trauma ini hilang karena selama trauma ini masih menghantuiku bahkan untuk melihat orangtuaku saja aku bisa down. Aku tidak lagi bisa berpikir jernih, pikiranku berantakan. Aku juga jadi sering sakit, pitam, pusing, dan lelah walaupun aku sudah cukup tidur.
Aku butuh orangtuaku datang padaku untuk bicara dengan lemah lembut tanpa mengancam, sok tau, sok benar, dan menyalahkan. Sudah cukup aku mendengarkan, aku ingin didengarkan. Tetapi kutahu itu tak akan pernah terjadi. Orangtuaku terlalu egois dan keras kepala untuk melakukan itu. Mereka tak akan pernah mengakui kesalahan mereka, mereka sendiri yang bilang “Kurang apalagi kami, coba?”.
Banyak yang kurang, tetapi untuk apa aku katakana jika ujung-ujungnya akan berakhir dengan aku lagi yang disalahkan?
Seperti beberapa hari yang lalu ketika aku menceritakan kalau aku sudah beberapa kali mimpi papa ingn menghancurkanku. Tetapi ujung-ujungnya aku dituduh benci dan dendam hingga terbawa mimpi. Aku kira trauma dan benci itu berbeda tetapi tidak ada yang namanya trauma dalam kamus orangtuaku.
Aku lelah dengan hidup.
Aku butuh seseorang untuk mulai mengubahnya.

2 komentar:

  1. Dude, this is very serious. I need to talk to, and discuss about it. Or even maybe come to ur home, meet ur parents. And help u to find the real peace for better life. U deserve get the whole support from ur friends, don't worry...we all with u brother, you are not alone. Allah always beside u for hear everything that u feel at that time. "Yaa muqollibal quluub tsabit qolbi 'ala diinik wa 'ala tho atik"

    BalasHapus
  2. dear, this is really serious! we need to talkkkkk dear

    BalasHapus